Jika kita lihat kembali ke belakang, sebenarnya dari mana awal mula kerusakan ini? Dari mana awal mula carut marut kepengurusan negara ini? Apakah sejak tahun 2012? 2014? 2019? Jika bisa kembali kemasa lalu, apa yang ingin kita ubah? Dimana kita memilih untuk menghentikan peristiwa-peristiwa, supaya tidak sampai pada kejadian hari ini? Apakah saat kita menyadari bahwa mobil Esemka tidak kunjung beroperasi? Apakah saat kita menyadari bahwa kesan sederhana dan merakyat adalah pencitraan? Apakah saat kita menyadari bahwa kasus pelanggaran HAM tidak pernah selesai dan justru bertambah-tambah? Apakah saat kita menyadari bahwa korupsi justru dibiarkan bebas demi pembangunan? Apakah saat mulai terlihat bongkar pasang kabinet yang hanya untuk memperkuat cengkram kuasanya? Apakah saat tahu bahwa anak mantu yang katanya tidak tertarik politik justru cepat menduduki kursi-kursi kepemimpinan? Apakah saat aturan-aturan mulai diubah demi jalan mulus pewaris tahta?
Sungguh sebanyak apa kita sudah dibohongi? Apakah kita baru menyadari? Apakah pernah kita menggugat sekuat ini? Sungguh setiap janji seorang pemimpin tertinggi, seharusnya terus kita tagih, kita minta bukti. Entah sejak kapan, seorang pemimpin dimudah-mudahkan untuk berjanji tanpa harus dipenuhi, dan kita amat mudah memaklumi.
Hari ini, jika kita lihat gelombang gejolak dimasyarakat, maka itu adalah tanda kerusakan yang semakin dalam. Tanda bahwa rasa malu telah hilang. Bahwa mungkin tidak ada lagi aparat negara yang peduli pada keberlangsungan masyarakat, tanda bahwa orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab, justru mencari naungan dibawah kekuasaan, mengamankan jabatan. Apa yang tersisa dari rakyat? Lelah, sakit hati, dan putus asa.
Mengapa bisa sampai sedarurat ini? Tentu karena penguasa-penguasa itu tidak lagi punya malu. Segala keputusan dan kebijakan terutama hanya untuk mengakomodir kepentingan mereka. Dan jangan lupa, kita juga telah jauh membiarkan mereka abai akan janji-janji mereka, kita juga membentuk tabiat mereka.
Jika kita lihat lagi ke belakang, sebenarnya dari mana awal mula kerusakan ini? Tidakah seharusnya kita melihat lebih jauh?
Sejak kita boleh mendiskusikan dasar hukum, menyusun dasar peraturan sendiri, mendefinisikan adil dengan kapasitas mereka sendiri. Kapasitas manusia. Tidakah kita bertanya, dari mana orang-orang itu mengambil definisi adil? Bagaimana mereka mengukur benar salah? Bagaimana mereka memutuskan ini boleh dan tidak boleh? Tentu saja berdasarkan peraturan yang mereka buat sendiri. Suatu peraturan yang jika bisa dibuat maka bisa diubah, dicabut, diganti. Ingatkah bahwa Undang-Undang Dasarpun bisa diamandemen?
Hari ini, tidakkah mau kita pikirkan kembali? Bahwa kerusakan bukan hanya pada personal, tapi pada sistem yang kita sedang berdiri diatasnya. Yang rapuh, yang memberikan ruang luas untuk kejahatan. Hari ini, tidakkah mau kita pikirkan kembali? Bahwa sebenarnya kita ini tidak mampu mengatakan bahwa keputusan kita ini adil. Selalu ada yang kita tidak tahu. Hari ini, tidakkah mau kita pikirkan kembali? Tentang kedaulatan yang ditangan rakyat, ditangan kita. Sedangkan kita banyak tidak tahu, sedangkan kita punya banyak tabiat buruk, sanggupkah kita memegang kedaulatan itu, tidakkah kita takut tergelincir dan jatuh? Bukankah akan baik jika kita serahkan saja kedaulatan itu pada Tuhan? Biarkan dia yang berdaulat diatas kita, masyarakat kita, dan negara kita.
Komentar
Posting Komentar