Ketika kita diberi hak pilih, barang kali kita akan terus menimbang - nimbang, hingga akhirya menentukan siapa pilihan kita. Mencari hal-hal yang pernah mereka lakukan, menghitung jejak baik dan buruknya. Mengukur nilai integritasnya. Melihat apakah kata-katanya sejalan dengan apa yang dilakukannya. Menilai apakah gagasannya rasional, bagaimana riwayat kepemimpinannya, siapa orang-orang disekitarnya, apa yang mendasari keputusan-keputusannya dan mungkin banyak sekali yang perlu kita pastikan sebelum akhirnya membuat pilihan. Seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menilai? Seberapa baik ukuran penilaian yang kita lakukan? Entah. Kita akan menilai sesuatu sesuai kadar kemampuan kita, sesuai dengan pengetahuan kita. Lalu pengetahuan kita tentang kepemimpinan tingkat tinggi yang mengurus berbagai sektor untuk 200 juta orang, apakah cukup untuk memberikan penilaian? Apakah cukup untuk menentukan siapa yang terbaik dalam kepemimpinan? Entah.
Seorang karyawan, seorang ibu rumah tangga, seorang pedagang, seorang pemuka agama, seorang ahli ekonomi, seorang ahli hukum, seorang kaya raya, seorang yang kekurangan, seorang yang amanah, seorang yang serakah, seorang berpendidikan, seorang yang tidak pernah sekolah, dengan pertimbangannya masing - masing, sama-sama diberi "satu" hak suara.Apa pertimbangan seorang ahli hukum? Apa pertimbangan seorang pemuka agama? Barangkali berbeda. Apa pertimbangan seorang yang amanah? Apa pertimbangan seorang yang serakah? Tentu saja berlawanan. Apa yang bisa mempengaruhi pilihan seorang berpendidikan tinggi? Apa yang bisa mempengaruhi pilihan seorang yang tidak pernah sekolah? Tentu berlainan.
Ya, beginilah peraturan yang mengikat kita.
Hari ini, beginilah cara kita memilih pemimpin. Menghabiskan begitu banyak biaya, ada potensi kecurangan disetiap tingkatannya, hanya untuk menghasilkan pemangku kebijakan yang kadang tidak bisa bertanggung jawab dengan kata-katanya sendiri. Hari ini, sudah berapa banyak ketidakadilan yang terlihat? Sudah berapa banyak peraturan yang ditabrak? Sudah seberapa tidak masuk akalnya logika diputar - putar? Sudah seberapa banyak ahli-ahli mengingatkan? Tapi seberapalah suara ahli-ahli ini dibanding suara di akar rumput yang sebagian besar masih merasa baik - baik saja. Apalah arti protes-protes para ahli, hari ini hasil dari pelanggaran etik bisa diterima luas ditengah masyarakat, diberi panggung bahkan didukung.
Kita sepakat bahwa tujuan kita adalah kesejahteraan, rasa aman dan keadilan. Hari ini kita menyadari bahwa kepemimpinan dan kebijakan, pengaruhnya bisa langsung menyentuh kita. Dampak dan manfaatnya bisa langsung kita lihat. Dengan keadaan hari ini, sungguh saya tidak berani berharap banyak tentang kesejahteraan, keadilan, bahkan rasa aman. Toh "banyak" orang merasa tidak ada yang perlu diperbaiki, bahkan ketika aset mereka banyak terjual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan ketika pendidikan tidak terjangkau, bahkan ketika hukum pilih-pilih.
Kita sepakat bahwa tujuan kita adalah kesejahteraan, rasa aman dan keadilan. Jika untuk mencapai tujuan kami harus kehilangan hak pilih, sungguh tidak masalah bagi kami. Jika boleh, biar para ahli saja yang mengambil keputusan.

Komentar
Posting Komentar