Moga Bunda Disayang Allah

 


Melati, anak usia 6 tahun, buta, tuli dan otomatis bisu. Bagaimana dunia Melati? Gelap dan hening. Rasa penasarannya tidak mendapat jawaban, rasa ingin tahunya tidak bisa ia jelaskan. Melati tidak tahu caranya menangis, tidak tahu caranya meminta. Hanya tangannya yang terus meraba-raba, melempar, memukul bahkan menjambak pengasuhnya. Melati terputus dari dunia. Sendirian dengan rasa frustasinya tentang apa yang ada dihadapannya. Apa yang menjadikan bunda sedih? Tentu saja karena Melati tidak bisa mengenal dunia, tidak bisa mengenal bunda, ayah. Namun, barang kali ini yang menjadikan bunda sungguh sedih, bahwa Melati tidak bisa mengenal Tuhan. Bahasa apa yang bisa dimengerti oleh Melati? Bagaimana caranya menjelaskan banyak hal pada Melati? Berbagai macam cara telah bunda coba, berbagai tim dokter telah datang. Tapi mengapa Melati dikatakan gila? Tidak! Bunda tidak percaya bahwa Melati gila, walaupun Melati hanya bisa mengeluarkan kata “Baaa” dan “Maaa”, walaupun Melati pernah menggigit jari dokter hingga hampir putus, walaupun Melati selalu marah (mengamuk) jika tangannya disentuh, walaupun Melati selalu makan berantakan menggunakan tangannya, Bunda percaya, bahwa Melati tidak gila.

Pak Guru Karang adalah pemuda yang terkungkung dalam perasaan bersalah, merasa segalanya sudah selesai, tidak ada yang tersisa. Putus asa dan pemabuk. Tapi semua tahu bahwa dia mencintai anak-anak, bukan karena mereka menggemaskan, tapi karena dia percaya, pada anak-anaklah ada janji kehidupan yang lebih baik nantinya.

***

“Melati punya kesempatan lebih banyak dibandingkan siapapun. Bahkan dibandingkan kesempatan kita melemparkan bola ke dinding itu yang pasti kena”

Komentar