Berguru



“Halo. Assalamualaikum Lia”, suara Mas To diujung telfon.

 

“Waalaikumsalam Mas To. Ada apa telfon malam-malam, Mas?”, pukul sepuluh malam, aku masih sibuk memilih topik skripsi yang akan ku ambil, ketika Mas To telfon di waktu yang tidak biasa.

“Li, teman mu ada yang rumahnya Semarang?” Mas To langsung melempar pertanyaan. “Semarang?” aku mencoba mengingat-ingat.

“Iya Li”

 

“Hmmm, teman yang Lia kenal sepertinya tidak ada yang dari Semarang Mas To. Tapi teman Lia ada yang kakek neneknya tinggal di Semarang. Ada apa Mas To?”

“Ini Li, Mas baru lihat di You Tube, di Semarang, di Merbabu, ada sarjana pertanian. Dia buat perkebunan organik, terintegrasi, ada peternakannya, ada kolam ikannya. Keren sekali Li, penghasilannya ratusan juta per bulan. Sekarang sayuran organik katanya lagi trend ya, Li? Disekitar kampusmu apa juga banyak yang minat ya Li?”, Mas To bercerita dan bertanya dengan antusias.

“Terus Mas To ini mau gimana?” Aku yang tidak berkonsentrasi penuh pada kata-kata Mas To masih tidak bisa menebak kemana arah pembicaraannya.

“Gini Li, kalo kamu ada teman atau kenalan yang tinggal di Semarang, bisa tidak ya mintakan kontak petani itu? Kalau diizinkan, Mas ingin belajar langsung ke orangnya. Tanah belakang rumahkan lumayan luas, rencananya Mas ingin buat kebun organik dan terintegrasi seperti itu Li” Mas To menjelaskan maksudnya.

“Lia liburan kemarin kan sudah belikan buku tentang pertanian organik. Mas juga bisa belajar dari You Tube saja to? Kan internet di rumah juga lancar, Mas. Mungkin ada seminar, atau tutorial yang di upload. Gratis, bisa langsung dipraktekan. Kenapa harus jauh-jauh ke Semarang? Ya, kalaupun teman Lia ada yang dari Semarang, kan belum tentu juga ada yang tahu kontak pribadinya petani itu, Mas. Mas sudah cari website atau media sosial petaninya? Mungkin ada kontaknya disitu, Mas bisa tanya-tanya saja lewat kontak itu. Mas ini cara belajarnya konvensional


sekali. Kuno. Sekarang belajar bisa jarak jauh to? Ndak harus datang langsung dan berguru ke orangnya. Lagipula, setahu Lia, berkebun dengan cara organik itu hasilnya ndak bisa maksimal, kalah jauh sama kebun-kebun yang pakai pupuk dan pestisida kimia. Mas ini ada-ada saja lho, lagian nanti Buk’e sendirian di rumah kalau Mas pergi” Aku tidak sadar telah bicara lebih panjang dari Mas To.

Tentu saja aku kaget dengan kalimat Mas To barusan. Pergi ke Semarang? Belajar berkebun organik? Model belajar seperti apa yang ada dibanyangan Mas To? Apa iya petani itu mau menerima dan punya waktu untuk mengajari Mas To? Apa Mas To mau jadi pekerja disana sambil belajar cara berkebun organik?

Mas To hanya selisih empat tahun denganku, tapi entah kenapa kadang cara berpikirnya seperti orang kuno sekali. Jika bukan aku yang memaksanya untuk mulai mencari informasi di internet, sampai sekarang Mas To mungkin masih minta dikirimi buku-buku pertanian setiap bulannya. Ya tidak salah sih, tapi mencari info di internet, jika caranya tepat, pelajaran yang didapat bahkan bisa lebih banyak, dan tentu saja lebih murah. Tapi tetap saja Mas To masih titip untuk dibelikan buku tiap aku pulang libur semester. Lagi pula Mas To bukan mahasiswa seperti aku, yang setiap tugas-tugas dan pendapatnya harus berdasarkan literatur yang jelas sumber dan kualitasnya. Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan Mas To. Kenapa juga belajar bertani jadi semerepotkan ini?

“Mas sudah coba Li. Sudah berhasil menanam kangkung dan sayur. Tomat sama cabai habis dimakan ulat. Memang hasilnya tidak banyak Li. Tapi Mas masih mencoba lagi. Lumayan, Ibu jadi bisa makan sayuran sehat tanpa pestisida Li” Mas To kembali menjelaskan.

“Mas To masih sempat mengurus kebun organik? Kebun jeruknya panen sebentar lagikan Mas? Bengkel Lek No katanya juga sedang ramai? Mas To kenapa nambah-nambah pekerjaan? Mas belajar saja dulu lewat buku, lewat internet. Lagi pula dulu Mas belajar menanam jeruk juga dari baca bukukan?” Aku mencoba membujuk Mas To.

“Kalau petani jeruk kan memang sudah banyak di desa kita. Selain baca buku, Mas juga bisa tanya sana-sini dengan mudah. Petani organik dan terintegrasi belum ada disini Li, Mas tidak bisa tanya-tanya. Kalau dari buku-buku dan internet saja, menurut Mas kurang jelas Li. Mas masih bingung menata tempatnya bagaimana. Kolam baiknya dimananya kebun, kandang baiknya


dimananya kolam. Tanaman yang ditanam sebaiknya apa dulu. Begitu Li, Mas masih bingung” Mas To masih tidak mau kalah.

“Lia bantu carikan Mas. Lia yakin pasti ada contohnya, nanti tinggal disesuaikan sama lahan kita. Mas tunggu saja ya. Akhir minggu ini coba Lia carikan bukunya atau contohnya di internet. Sekarang Lia masih mau cari judul untuk skripsi” Aku berharap bujukanku bisa mengakhiri perdebatan. Paling tidak untuk saat ini, paling tidak Mas To mau menyudahi telfonnya kali ini, dan mau menunggu sampai akhir minggu.

“Tapi untuk membuat perkebunan terintegrasi, Mas perlu ternak lebah, ternak magot, benih berbagai sayuran juga Li. Mas tidak tahu harus beli dimana, kalau Mas bisa ketemu petani yang sudah berpengalaman, Mas bisa tanya-tanya banyak hal” Mas To ternyata masih punya pembelaan.

“Hmmm, mungkin bisa dibeli online Mas. Nanti Lia bantu carikan toko yang jual dengan harga murah. Tapi Mas to sabar dulu ya, Lia lagi ada deadline untuk pengajuan judul skripsi.” Semoga ini akhir dari percakapan malam ini.

“Kalau beli makhluk hidup gitu bisa online ya Li?” Mas To bertanya dengan nada polos.

 

“Sudah lah Mas To belajar dari internet saja dulu. Kasian Buk’e nanti kalau Mas To pergi. Lagi pula semester depan Lia sudah mulai mengerjakan skripsi Mas. InsyaAllah kuliah Lia selesai semester depan. Panen jeruk masih cukupkan untuk biaya kuliah Lia semester depan? Lia juga ada penghasilan dari mengajar private. Setelah lulus Lia juga bisa mengajar di lembaga bimbingan di dekat kampus, Lia sudah pernah magang di sana, dan katanya mereka mau menerima Lia kerja di sana setelah Lia lulus Mas. Mas tidak usah repot-repot buat kebun organik, InsyaAllah dari kebun jeruk saja cukup Mas” Aku yakin ini akhir dari percakapan malam ini.

Mas To tidak menjawab. Aku tersenyum. Ini kesempatanku untuk membatalkan niat Mas To yang aneh itu.

”Mas To jangan khawatir lagi tentang kuliah Lia. Biaya skripsi Lia juga didanai kampus, InsyaAllah semua beres deh Mas semester depan.”

Mas To masih diam, terdengar helaan nafas. Seperti ada kata-kata yang tertahan, entah apa yang akan dikatakan Mas To, aku berharap itu keputusan untuk Mas To untuk tidak pergi, atau


setidaknya Mas To mau memikirkan lagi keinginanannya, dan percakapan malam ini berakhir sampai disini.

“Tapi Li....” Mas To seperti sedang menyusun kalimat terbaiknya. Mencari kata-kata paling tepat, lantas memerangkainya untuk diluapkan padaku. Mas To melanjutkan perkataannya dan aku masih mendengarkan.

“Tapi usia kebun jeruk itu sudah hampir delapan tahun Li. Mungkin satu tahun lagi, panennya sudah tidak sebanyak tahun ini. Mungkin dua tahun lagi, pohonnya berbuah sedikit sekali. Mungkin tiga tahun lagi, pohonnya sudah tidak berbuah sama sekali. Hasil panen kebun jeruk insyaAllah cukup untuk biaya kuliahmu Li, tapi entah cukup atau tidak untuk membiayai kebutuhan Mas kedepannya.”

Kini giliranku yang diam, tidak tahu harus menjawab apa. Setelah kuliahku selesai, Mas To mungkin bisa tenang dan tidak lagi memikirkan biaya besar untuk pendidikanku. Tapi Mas To bukan bapak yang tinggal menunggu bakti anak-anaknya. Mas To adalah kakak, yang mengambil tanggung jawab bapak. Maka ketika Mas To telah mengantarku sampai pada impianku, Mas To baru bisa bergerak leluasa menggapai mimpinya. Selain ingin melihatku mencapai impianku, Mas To juga punya mimpinya sendiri. Aku mungkin tidak lagi membebani Mas To dengan biaya kuliah, tapi tanggung jawab Mas To bukan hanya pada biaya pendidikanku, Mas To juga bertanggungjawab atas dirinya sendiri, atas impiannya sendiri. Kata-kataku sebelumnya mungkin bisa menenangkan bapak, tapi jelas tidak dengan Mas To. Dia tidak akan mau duduk diam menunggu bakti dari adiknya, Mas To pasti akan berbuat banyak, lebih banyak dari sebelumnya, untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Mas To dan kesukaannya berkebun sungguh jelas sekali. Mas To dan rencana-rencananya tidak pernah tinggal diam. Mas To dan rasa ingin tahunya tidak akan pernah mati. Maka, setelah banyak buku pertanian dibacanya, setelah bayak informasi tentang pertanian didapatnya. Bagaimana aku bisa berpikir bahwa Mas To tidak merencanakan apa-apa? Pertanyaannya malam ini jelas bukan tiba-tiba, lihatlah betapa tepat waktunya. Saat aku sudah hampir sampai pada ujung pendidikanku, saat kebun jeruk mungkin tidak lagi seproduktif sebelumnya. Maka saat ini, Mas To merasa tepat untuk bergerak ke arah yang lain, mencoba hal lain.


Sama seperti saat Mas To memutuskan menanam jeruk. Tepat saat Mas To lulus SMK, tiga tahun sebelum aku mulai kuliah. Saat itu, selain bekerja di bengkel Lek No, Mas To mulai menanam benih-benih jeruk di kebun kami. Dan jauh sebelum itu, Mas To sudah banyak bertanya dan membaca buku tentang pertanian. Bahkan Buk’e kadang bingung, kenapa Mas To yang sekolah SMK jurusan otomotif lebih banyak membaca buku tentang pertanian daripada tentang mesin. Dan aku, saat meminta izin untuk melanjutkan kuliah, Mas To dengan lantang mengiyakan, menyuruhku untuk tidak usah khawatir masalah biaya, Mas To mempersembahkan hasil panen kebun jeruk yang sudah lumayan. Duhai, bagaimana aku bisa lupa, bahwa Mas To tidak pernah tidak berhitung dengan setiap keputusannya?

***

 

Liburan semester ini, aku dua bulan full bisa di rumah. Menemani Buk’e, sambil melakukan penelitian untuk skripsi.

“Mas To berangkat ya Buk’e” Mas To pamit.

 

“Iya To” Buk’e menjawab pendek sambil mengusap kepala Mas To.

 

“Mas nanti kalau sudah sampai langsung hubungi teman Lia ya! Jemputnya mungkin agak lama, karena rumahnya jauh! Nanti teman Lia katanya mau ajak mas kerumahnya dulu, istirahat dulu, baru diantar ke perkebunan. Mas To jangan keburu minta diantar ke perkebunan ya! Mas To percaya saja sama temannya Lia, dia dekat sekali dengan pemilik kebunnya”

“Iya Li.” Mas To tersenyum mendengar aku ngomel.

 

Mas To tidak pergi ke Semarang tapi ke Malang. Perkebunan organik dan terintregasinya tidak sebesar yang ada di Semarang, tapi Mas To tetap semangat berangkat berguru, mencuri ilmu. 

Komentar