Hari-hari ini, bukankah pembelajaran terasa begitu gersang? Ketika waktu ujian tiba, kita bersiap dengan belajar sungguh-sungguh, les sana-sini, mencari tempat ternyaman, begadang dan lain sebagainya. Lalu setelahnya, setelah ujian berlalu, kita rayakan sebagai kebebasan, lepasnya diri dari jerat yang terasa menyiksa. Bukankah ilmu itu harusnya cahaya? Menerangi yang gelap dan menunjukkan jalan? Lalu ujian itu sendiri, kenapa kita bersusah payah untuk melewatinya? Untuk lulus? Nilai baik? Kuliah di perguruan tinggi ternama? Bekerja? Dapat gaji besar? Barangkali beginilah gambaran sebagian kegiatan belajar mengajar yang ada dihadapan kita. Orientasinya kepada materi, lingkupnya sempit hanya untuk kepentingan kita sendiri. Maka jadilah, begitu gersang kita menempuhnya. Hati kita dijadikannya keruh karena tujuannya dunia. Dan kawan, begitu mengerikannya ancaman Allah bagi orang-orang yang menuntut ilmu bukan karena-Nya “Tidak dapat mencium bau surga”
Bukankah mempelajari sesuatu yang baru itu harusnya menyenangkan? Ketika kita memahami satu lagi konsep, menghafal satu lagi teori, menemukan satu lagi pengetahuan, bukankah seharusnya kita menyambutnya dengan antusias? Seperti anak-anak yang selalu bertanya dan ingin tahu, kita pasti punya rasa penasaran, maka disanalah seharusnya kegiatan belajar dimulai. Atas dasar rasa penasaran. Maka setelahnya kita mencari tahu, memahaminya, menyimpulkan dan yang paling penting, menjadi bermanfaat dengan ilmu yang kita pelajari.
Belajar atas dasar keingintahuan, rasanya tidak akan membuat kita lelah, dan barangkali justru membuat kita tidak akan berhenti belajar, yang memang begitulah seharusnya. Tidak pernah kita diizinkan berhenti belajar, karena ilmu pengetahuan lebih banyak dibanding waktu yang kita punya.
***
Kita tidak cukup jika hanya menjadi tahu berbagai hal, apalagi menyimpan data yang tidak berguna (smog data). Sedangkan kita menyadari, hari ini ditengah kemudahan komunikasi, banyak data-data tidak berguna yang bisa kita tangkap setiap harinya. Jikapun yang kita tahu adalah hal-hal baik, kita tidak cukup hanya dengan berpengetahuan, membiarkan informasi mengendap dalam otak, karena itu tidak menjadikan manfaat. Jauh sebelum kita menjadi berpengetahuan, cerdas, dan menguasai banyak konsep, sangat penting bagi kita untuk memiliki karakter yang baik. Tangguh, jujur, berani, dan semua sifat baik lainnya. Pengetahuan, bagaimana kita bisa membuktikannya, jika kita tidak memiliki keberanian melompat dari bukit dengan sayapnya seperti Abbas bin Firnas. Bagaimana kita bisa mempertahankan kebenaran ilmu yang kita punya, jika kita tidak punya ketangguhan seperti Hamka saat mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua MUI. Bagaimana kita menghindari orang-orang yang akan mencari keuntungan sendiri dengan memanfaatkan ilmu kita, jika kita tidak berani seperti Jendral Hoegeng.
Sungguh kawan, belajar seharusnya bukan sekedar menambahkan informasi atau pengetahuan, dalam pendidikan harusnya sungguh diperhatikan tentang karakter. Bukankah amat sedih melihat banyak orang-orang terdidik hari ini tidak memiliki karakter baik? Bukankah sedih melihat satu lembaga punya pengawas, pengawasnya punya pengawasnya lagi dan seterusnya. Sepertinya kita harus diawasi untuk bisa bekerja dengan jujur dan benar, padahal etos kerja yang baik bisa kita bangun lewat karakter yang baik. Betapa hematnya keuangan negara jika lembaga-lembaga pengawas tidak ada lagi karena semua orang punya karakter baik.
Komentar
Posting Komentar