Bertahun-tahun saya belajar dalam lembaga pendidikan, semuanya sekolah umum. Matematika, fisika, kimia, biologi, saya rasa menjadi mata pelajaran paling serius untuk dipelajari. Berbagai kompetisi yang terasa bergengsipun seputar mata pelajaran tersebut. Sehingga jika kita unggul dalam salah satu mata pelajaran itu, rasanya amat membanggakan. Tingkat kabupaten, provinsi, nasional dan seterusnya.
Disekolah kita belajar. Belajar,
berusaha memahami materi, memecahkan soal-soal, mengerjakan perintah-perintah
guru. Waktu itu, saya rasa amat jarang ada yang mau menjelaskan mengapa kita
harus belajar ini dan itu. Tapi kita tetap belajar, menghafal, mengerjakan
soal, mengikuti ujian dan seterusnya. “Untuk apa kita belajar?”, jika dulu
pertanyaan itu ditujukan pada saya, apa yang akan saya jawab? Barangkali untuk
bisa menempuh ujian, lulus, melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi,
mendapat pekerjaan yang baik, sukses.
Disekolah kita mendapat
pengetahuan. Sekali lagi, banyak diantaranya adalah matematika, fisika, kimia,
biologi. Apakah kita selesai belajar ketika kita sudah dapat pengetahuan? Harusnya
tidak, harusnya pendidikan bukan cuma tentang pengetahuan, tapi juga tentang
karakter. Tentang teguh, jujur, tidak mudah menyerah, pemberani, dan
seterusnya.
Duhai, ternyata betapa ilmu itu
amat tinggi kedudukannya. Betapa menyenangkannya berdekat-dekat dengan ilmu
pengetahuan jika hati kita juga dipenuhi rasa antusias, rasa penasaran atas apa
yang kita pelajari. Betapa ilmu itu ternyata amat menyejukkan, dan betapa
belajar ternyata bisa terasa seperti kebutuhan, bukan tuntutan. Jika kita
belajar dengan cara demikian, jika sistem memberikan ruang untuk rasa penasaran
dan antusias, apa yang akan kita perbuat? Akan seperti apa kita hari ini?
Tentu saja proses belajar adalah
proses amat panjang, betapapun itu bidang ilmu favorit kita, akan butuh
keteguhan hingga kita bisa menebar manfaat dengan ilmu yang ada pada kita. Lelah,
susah, gagal akan menemui kita.
Komentar
Posting Komentar