Hidup



Bunga-bunga meninggi, mekar, lalu mati

Burung-burung terbang, makan, lalu pulang

Manusia berjalan, riuh berebut kehidupan


Hujan turun, menumbuk tanah, lalu lenyap

Angin berhembus, lewat, dan berlalu

Manusia berlari, sibuk, takut, dan kelelahan


Duhai, sebenarnya untuk apa kita ini ada?

***

Waktu terus berlalu, pelan-pelan kita lepas dari buaian ibu. Akal kita akan berkembang, pengetahuan kita akan bertambah. Saat itu pertanyaan-pertanyaan akan semakin banyak. Pertanyaan itu wajar, dan sangat perlu untuk kita jawab. 

***

Kita melihat dunia di hadapan kita. Semakin lama kita makin menyadari, betapa dalam dunia ini sedang berjalan berbagai siklus yang amat rumit dan menakjubkan, teratur dan mengherankan. Kita kagum pada malam yang berganti siang, pada tanah yang menumbuhkan tanaman, pada hujan yang menyejukkan. Kalaulah kita pertanyakan

“Mengapa hujan bisa turun?”

“Karena awan-awan telah terlalu tinggi, suhunya menjadi dingin maka air yang ada di dalamnya mencair, turunlah air itu sebagai hujan”

“Bagaimana awan-awan bisa ada diatas sana?”

“Karena panas matahari menguapkan air yang ada di bumi”

“Mengapa air bisa menguap saat terkena panas matahari?”

“Karena begitulah sifat air, pada suhu tertentu dia akan berubah wujud. Panas akan mengubah bentuknya menjadi gas, dingin mengubahnya menjadi padat”

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena semakin tinggi suhu atau temperatur, molekul air dalam bentuk cairan itu akan semakin cepat bergerak, pergerakan itu menghasilkan energi dan menyebabkan molekul air lepas dari bentuk cairnya dan berubah menjadi gas”

“Bagaimana air bisa tercipta dengan sifat yang demikian? Kenapa juga matahari ada diatas sana? Siapa yang meletakkannya?”

“.....”

Pada akhirnya banyak pertanyaan yang tidak bisa kita jawab. Apakah itu hanya kebetulan? Apakah matahari kebetulan memancarkan panas dan air kebetulan bisa menguap? Apakah hujan turun dengan kebetulan? Lalu kenapa kebetulan itu datang berurutan? Kenapa kebetulan-kebetulan itu sangat teratur? Apakah segala keteraturan itu hanya kebetulan?  

Ketika satu kali lagi kita menyadari bahwa ada proses sedemikian rumit dan sistematis sedang bekerja di sekitar kita, terus berjalan siang dan malam, tanpa kita beri perintah dan aba-aba, saat itu kita merasa amat lemah dan tidak berkuasa. Maka saat itu kita juga menyadari ada kekuatan besar dibalik berjalannya dunia ini. Dunia ini ada yang mencipta dan tidak terjadi secara kebetulan. Sedangkan akal manusia hanya mampu menjelaskan, itupun hanya sebagian dari penciptaan-Nya. Tidak, kita tidak akan mampu meniru apa yang diciptakan-Nya.

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya yang kamu seru selain Allah tidak mampu membuat satu lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan merebut kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang disembah dan yang disembah. Al-Hajj (22): 73.

Untuk apa semua penciptaan ini? Tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk bertanya selain kepada Dia yang menciptakan. Maka Dia utus nabi-nabinya, menyampaikan pesan, menjawab segala pertanyaan mendasar manusia. Tentang dari mana kita? Untuk apa kita ada? Dan kemana kita setelah ini? 

***

Inilah kita, dicipta sebagai manusia. Makhluk paling tinggi derajatnya di atas muka bumi. Allah berikan kita akal, karenanya kita diberi tanggung jawab untuk mengelola segala yang ada di atas bumi. Maka sudah seharusnya pengelola selalu mampu membawa kebaikan. Dengan anugerah akal dan dengan petunjuk ilmu, kita akan timbang segala keputusan kita. Kita akan pilih mana yang paling baik untuk kita dan lingkungan kita, karena kita adalah pengelolanya, pemimpinnya. Mengetahui kita punya kewajiban mengelola segala yang ada di bumi supaya tetap baik dan diliputi kebaikan, menyadari pula kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya tanpa kekuatan-Nya, menjadikan hidup amat berkesenian. Seni untuk menyeimbangkan dua tugas yang bisa dibilang berlawanan, sebagai pemimpin dan sebagai hamba. Namun, justru keduanya sungguh saling menyeimbangkan, karena kita menyadari batas-batas kemampuan kita, karena kita menyadari kewajiban kita adalah berusaha, karena menyadari hasil dari usaha bukan kuasa kita, hati kita akan senantiasa merasa tenang. Menyadari bahwa Allah menilai proses panjang yang kita usahakan, menjadikan kita tidak merasa putus asa. Percaya pada janji-janji Allah yang tak pernah ingkar, membuat kita tidak berhenti berbuat kebaikan.

Menjadi pemimpin tentu saja sebuah kehormatan, tapi barangkali pernah terbersit sesal dalam hati, mengapa kita harus diciptakan sebagai manusia. Lihatlah bunga, betapa menyenangkannya hidup sebagai bunga, tidak khawatir jika tidak mendapat gaji besar. Lihatlah burung, tidak pusing jika tidak diterima di sekolah ternama. Lihatlah ikan-ikan, bebas saja berenang, tidak memikirkan penilaian tetangga. Dan lihatlah kita, manusia, pontang-panting, bingung dan takut menghadapi kehidupan. Apakah besok nasib akan baik? Apakah usaha akan berhasil? Apakah penampilan telah menarik? Begitu banyak kekhawatiran manusia, begitu memusingkannya jadi manusia, dan betapa menyenangkannya menjadi sekuntum bunga. Haha….barangkali demikian gumam hati kita jika kesulitan sedang melanda. Bahkan Abu Bakarpun iri pada burung-burung, Abu Bakarpun merasa berat karena harus menjadi manusia. Apa yang ditakutkan Abu Bakar?

“Wahai burung, engkau lebih beruntung dari pada aku karena bisa mencari makan dan beterbangan kesana kemari tanpa perasaan takut pada hari pembalasan. Alangkah senangnya jika aku menjadi dirimu”

Pertanggung jawaban, pembalasan, betapa menakutkannya kata-kata itu. Menyiapkan alasan untuk segala tindak-tanduk kita, apakah akan diterima? Maka, seharusnya kita selalu takut, apakah Allah ridha pada perbuatan kita, dan seharusnya itu menjadi kekhawatiran terbesar kita. Maka, seharusnya segala yang kita perbuat harus diatas jalan kebenaran menurut-Nya.

Inilah kita, manusia, kita dianugerahi akal, diajarkan ilmu, diberi wewenang untuk memimpin, sekaligus harus senantiasa taat, tunduk patuh pada-Nya. Dialah yang memberi kehidupan, dengan cara yang diajarkan-Nya kita hidup, setelahnya kita akan kembali pada-Nya.


Komentar