Apa yang kau kenang saat hujan?
Apakah tetesannya mengingatkan mu pada air mata?
Apakah sejuknya mengingatkan mu pada masa bahagia?
Apa yang kau kenang saat embun mulai menguap?
Apakah perginya mengingatkan mu pada kehilangan?
Apakah beningnya mengingatkan mu pada harapan?
Kau tahu?
Aku selalu penasaran atas jawaban mu
Tentang kesan yang tertinggal dihatimu
Namun, yang paling membuatku penasaran
Apa yang kau kenang saat nama ku terdengar oleh mu?
***
Berapa banyak kita mendengar cerita
tentang perasaan, berapa banyak yang tertinggal dalam hati, dan berapa banyak
yang mempengaruhi diri? Cerita tentang perasaan, tentang sepasang kekasih,
barangkali akan tetap menarik sepanjang manusia ada di bumi. Maka cerita
tentangnya terus mengalir dan mengudara ke berbagai tempat. Memperdengarkan
pengorbanan dan perjuangan untuk meraihnya. Sebagian ceritanya menggema
melintasi zaman, menjadi teman bagi mereka yang mengaku sedang mencinta.
Begitulah hari ini kita mengagung-agungkannya, menyebutnya sebagai “cinta”.
***
“Oh Romeo! Romeo! Mengapa namamu
Romeo? Ingkarilah nama ayahmu dan juga namamu! Atau kalau engkau tidak mau,
demi cintaku, aku bersedia tidak menjadi seorang Capulet!”, inilah sepenggal
gumam yang diungkap Juliet dalam gelisahnya, setelah menyadari bahwa orang yang
telah memikatnya punya nama belakang Montague, musuh keluarganya. Hal yang sama
juga terjadi pada Romeo, malam itu pikirannya kalut, maka ia keluar diam-diam
pergi ke rumah musuh keluarganya, memanjat dindingnya, dan menemukan Juliet
sedang meratap berbicara sendiri. Romeo masih bersembunyi dalam gelap saat
gumaman itu terdengar olehnya. Hatinya bimbang “Haruskah aku mendengarkan dia,
atau membalas perkataannya?”. Romeo masih memandangi Juliet dari kegelapan saat
gumam-gumam kesedihan diutarakannya. Dan dengan segenap keberanian Romeo
membalas
“Aku setuju dengan ucapanmu. Panggil
aku cinta maka aku telah dibaptis, dan aku bukan lagi Romeo”, suara Romeo
mengagetkan Juliet.
“Siapakah
kamu, bersembunyi dalam kegelapan malam mengintai diriku?
“Aku
tidak tahu bagaimana cara memberi tahu siapa aku. Aku sangat membenci namaku,
wahai perawan suci, karena ia menjadi musuhmu. Jika namaku berbentuk tulisan
aku akan merobeknya. “
Juliet
menyadari bahwa suara itu adalah Romeo. Bahagia dia mendengar suara kekasihnya,
tapi tentu saja rasa takut turut menyusup dalam hati Juliet.
“Katakan, bagaimana engkau bisa
sampai di sini, dan untuk apa? Lengkung dinding tinggi dan susah untuk
dipanjat. Engkau juga tahu, ini merupakan tempat kematian jika keluargaku tahu
engkau di sini,” Juliet mengungkapkan cemasnya
“Dengan
sayap cinta aku terbang mencengkeram dinding ini. Karena susunan batuan tak
mampu membatasi kekuatan cinta. Dan apa yang bisa dilakukan cinta, tak ada yang
bisa menahan. Begitu juga keluargamu, tak akan mampu menahanku.”
Mereka
terus bercakap hingga Juliet kembali melempar pertanyaan. “Bagaimana caranya
engkau pergi dari tempat ini?”
“Cinta
akan menunjukkan jalan, seperti mereka menunjukkan jalan untuk menemuimu. Ia
meminjamkan nasihat padaku, dan aku meminjamkan mata padanya, karena aku bukan
nahkoda. Seandainya engkau pantai membentang di seberang laut terluas, aku akan
mengarungi samudra itu untuk mencapai pantai.”
***
Duhai Romeo, kata-katamu begitu
tinggi, cinta memberimu kekuatan untuk naik turun dinding rumah musuh
keluargamu. Kau bilang permusuhan antar keluargamu dan keluarga Juliet tak akan
mampu menahanmu. Tapi kau tidak pernah berani menghadapi keluargamu dan
keluarga Juliet, kecuali setelah kematianmu. Pernikahanmu diwarnai tipu daya
pada Nyonya Capulet.
Cinta Romeo adalah galau, penyesalan
dan putus asa. Bahkan pada tangan-tangan yang membantu kelahirannya, ia
mengutuknya. Romeo marah pada semua isi dunia, mengapa nasib sial tidak
berhenti menimpanya, mengapa tidak ada satu saja kesempatan hidup tenang
bersama Juliet.
Romeo, cintamu sama sekali bukan
keberanian, ia adalah keinginan untuk menghindar, untuk lari dan untuk terus
menerus bersembunyi. Kau tidak tepat saat menghitung kekuatanmu. Begitulah
kata-katamu menjadi terlalu tinggi dibanding apa yang bisa kau perbuat. Hingga
pada puncaknya kau menyerah pada kehidupan, mempersiapkan kematian,
meninggalkan semua kesedihan.
Dari kisah cinta yang melegenda di
barat, kali ini kita melompat ke timur. Cerita yang sebelum dibukukan, sudah
tersebar luas di masyarakatnya. Cerita seorang pemuda yang jatuh cinta,
menciumi dinding rumah gadis yang dicintainya, rela menyamar sebagai pengemis
dan pelayan wanita demi sampai ke rumah kecintaannya. Dia yang diharapkan jadi
penerus ayahandanya, amat mengecewakan dan memalukan karena kegilaannya. Dialah
Qais yang dijuluki Majnun.
“Cinta bagai ilham dari langit yang
menerobos dada dan bersemayam dalam jiwa. Dan kini kami mati karena asmara yang
telah melilit seluruh nurani. Katakanlah padaku: pemuda mana yang bebas dari
penyakit cinta?”
Begitulah Qais menyebut cinta dalam
dirinya, penyakit. Maka benar, cintanya itu menguruskan badannya dan
melenyapkan akal sehatnya. Yang bisa menyembuhkannya adalah harapan untuk
bersama Layla, dan ketika harapan itu hilang, hilang pula warasnya. Obsesinya
pada Layla menjelma jadi tindakan-tindakan kompulsif yang tidak dapat
dikendalikan.
***
Bagi Romeo, cinta barangkali adalah
kerelaan menenggak racun. Bagi Qais, cinta adalah mempertahankan perasaan
hingga menggila. Duhai...apakah cinta selalu penuh derai derita? Menyakitkan
dan melemahkan?
Seberapa banyak jumlah manusia,
barangkali sebanyak itu juga definisi cinta, sebanyak itu juga bentuk-bentuk
cinta. Kawan, betapa perasaan ini asing bagi kita. Ketika kita menyadari ada
satu hal berbeda dalam perasaan, ketika kita menyadari ada tempat istimewa
dihati kita untuk seseorang. Kemanakah kita belajar mengelolanya? Tentu bukan
pada Romeo yang memilih mati untuk mengobati kesedihan. Tentu bukan pada Qais
yang menjadi gila, compang camping, dan kelaparan demi memperturutkan cintanya
pada Laila. Lihatlah bagaimana Romeo dan Qais menjadi lemah, takluk dan kalah
karena perasaannya. Tunduk, memperturutkan maksud hati untuk menggenggam
cintanya. Tunduk, pada gejolak perasaan yang dipeliharanya sendiri. Lalu pada
perasaan itu, jiwanya kalah, raganya melemah, akalnya goyah. Inilah dimana
cinta telah menjadi penyakit.
Lalu
apakah ada pilihan sikap selain putus asa jika cinta menemui kebuntuan? Mungkin
kita bisa belajar dari tokoh Hamid dan Zainab dalam novel Di Bawah Lindungan
Ka’bah karya Buya Hamka. Kesan paling kental saat membaca novel ini barangkali
adalah kritik pada budaya yang amat memberatkan, tapi kita bisa belajar dari
bagaimana Hamid bersikap. Berikut adalah penggalan nasihat ibu Hamid
“Memang
Anak, … cinta itu ‘adil’ sifatnya, Allah telah menakdirkan dia dalam keadilan,
tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada
menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia,
bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya bangsa dengan bangsa. Tetapi
aturan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku”
Dialah Hamid yang tidak kuasa
mengungkapkan cintanya pada Zainab karena perbedaan status sosial dan ekonomi
serta karena adat tanah minang yang amat kokoh dan dijunjung tinggi. Ditambah
dirinya dimintai tolong ibu Zainab untuk membujuk Zainab supaya bersedia
menikah dengan calon pilihan keluarganya. Pertolongan keluarga Zainab pada
Hamid amat banyak, maka dialah Hamid, tidak berani meminta lebih dari apa yang
sudah diberikan keluarga Zainab padanya. Cinta Hamid pada Zainab tidak
menemukan jalan keluar. Ia menghitung kesempatan, hampir nol. Maka Hamid
memutuskan pergi. Tentu dia sedih menghadapi nasibnya, tiada lagi orang tua,
tiada lagi yang menunggunya pulang dan cinta yang bahkan tidak kuasa dia
mengungkapkannya. Hamid masih menyimpan perasaannya, tapi apakah dia menjadi
putus asa pada kehidupan? Tidak. Dia memilih bergulat terus dengan ketaatan,
mengagumi Penciptanya, meski raut sedih tidak pernah hilang dari wajahnya.
Dialah Hamid, pergi jauh demi mengobati sedihnya, tapi jarak yang jauh tidak
menjamin terkuburnya kenangan dan hilangnya bayangan Zainab. Pada akhirnya
Hamid meninggal dalam usahanya untuk mengobati kesedihan itu. Dan usahanya
adalah perjalanan untuk terus mendekat pada Allah yang menggenggam
kehidupannya. Maka kematian Hamid sama sekali berbeda dengan kematian Romeo
yang putus asa. Romeo menjadi lemah karena cintanya, sedang Hamid tahu
ketidakberdayaannya karena menyadari Allah amat berkuasa atas dirinya. Setelah
banyak usahanya dilakukannya untuk memadamkan sedih, sedih itu masih juga
bersemayam di hatinya, maka ia pasrahkan semua pada Allah tentang apa yang akan
jadi jalan keluar atas semua gulananya dengan terus berada pada jalan ketaatan.
Kesedihan Hamid juga tidak sama dengan kesedihan Qais. Qais menenggelamkan
dirinya dalam sedih dan kekecewaan, sedangkan Hamid berusaha keluar dari sana
dengan bepergian dan ketaatan.
“Ya
Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang! Bahwasanya, di bawah
lindungan Ka’bah, Rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan
tangan memohon karunia.
Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan
kepada Engkau, ya Tuhan.
Tidak ada seutas tali pun tempat saya bergantung lain
daripada tali Engkau. Tidak ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain daripada
pintu Engkau.
Berilah kelapangan jalan buat saya, hendak pulang ke hadirat
Engkau, saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang
yang bertali hidupnya dengan hidup saya.
Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami
sekalian kembali....”
Begitulah do’a Hamid yang
penghabisan. Kesusahan hidupnya membawanya untuk selalu mengadu hanya kepada
Allah Yang Maha Kuasa. Seorang teman yang telah mendengar seluruh kisah sedih
Hamid berkata:
“Jikalah
sempit dunia ini bagimu berdua, maka alam akhirat adalah lebih luas dan lapang,
di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan kesabarannya;
disanalah penghidupan yang sebenarnya, bukan mimpi dan bukan tonil.”
Tidak
seperti Romeo yang putus asa, Hamid meyakini bahwa hidup sesungguhnya adalah
sesudah kehidupannya di dunia ini. Maka ia berharap deritanya di dunia kini
dapat berganti dengan bahagia di hidup yang selanjutnya. Lagipula dunia ini amat
sebentar dan dunia yang akan kita tuju itu kekal. Berpegang pada keyakinan yang
telah ditanam kuat, Hamid terus berjalan diatas kesabaran hingga namanya
dipanggil pulang.
***
Rasa-rasanya
hari ini banyak cerita cinta semacam Romeo dan Juliet atau Layla dan Majnun
dibanding semacam Hamid dan Zainab, dengan berbagai latar dan penyajiannya
menjadi amat menarik bagi kita, menemani kita menghabiskan waktu, menghibur
ditengah kejenuhan.
Ada
banyak teori mengenai pengaruh media terhadap perilaku manusia, salah satunya
adalah Cultivation Theory yang
dikemukakan George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan televisi yang
berulang-ulang, menyebabkan seseorang memandang dunia sama seperti dunia yang
ditampilkan di televisi. Efek kultifikasi yang paling banyak dikutip adalah
dengan banyaknya kekerasan pada tayangan televisi membuat penonton televisi
yang berulang-ulang dan berat meyakini bahwa dunia adalah tempat yang kejam (Borah,
2015). Orang yang meyakini hal tersebut dapat melibatkan diri mereka dalam
perilaku kekerasan. Menurut Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi Massa,
meskipun media tidak mempengaruhi perilaku secara langsung, tetapi media
cenderung akan mempengaruhi citra lingkungan seseorang, selanjutnya citra ini
yang mempengaruhinya dalam berperilaku. Rahmat juga menyebutkan untuk sampai
pada perilaku tertentu, pengaruh dari media disaring, diseleksi atau bahkan
ditolak, tergantung dari faktor personal dan situasional. Namun meskipun
demikian, pada titik tertentu pengaruh tontonan pada perilaku bisa sangat
mengerikan. Contohnya adalah perilaku seorang remaja bernama Andrew Conley yang
mencekik adiknya yang berusia sepuluh tahun, setelah itu tubuhnya dimasukkan ke
tas sampah dan dibuang di area parkir dekat rumah mereka di Rising Sun, India.
Andrew memberikan keterangan pada polisi bahwa dirinya meniru perilaku Dexter,
dia mengidentifikasi dirinya sebagai Dexter, tokoh dalam serial televisi yang
seorang polisi sekaligus pembunuh berantai. Andrew menyatakan bahwa hasratnya
untuk membunuh sama dengan hasratnya untuk makan, maka hasrat tersebut harus
dipenuhi. Tidak hanya itu, Andrew juga pernah menghayal untuk membunuh ayahnya.
Amat mengerikan.
Begitulah
tontonan bisa mempengaruhi perilaku kita. Kita menyadari kisah Romeo dan
Juliet, Layla dan Majnun, serta Hamid dan Zainab adalah karangan. Tapi
betapapun kita menyadari semua cerita itu adalah karangan, kita tidak pernah
tahu, kapan dan bagaimana kisah-kisah itu mempengaruhi sikap kita. Maka
seharusnya kita bisa memilih secara sadar apa yang akan kita tonton, apa
informasi yang akan kita lihat dan dengar, dengan memilih secara bijak, kita
berharap Allah menuntun langkah-langkah kita pada kebaikan dan menghindari
langkah-langkah kesesatan. Sayangnya hari ini kisah macam Romeo dan Juliet yang
terjangkau dengan mudah dan tersaji amat dekat dengan kita. Kalaulah mau kita
telusur, banyak juga kisah macam Hamid dan Zainab yang cintanya meski sendu,
tetap memilih jalan ketaatan untuk mengobatinya. Dan bisa jadi kisah itu amat
dekat, barangkali itu kisah ayah ibu kita, atau kakek nenek kita. Jikalah ada
waktu senggang bisa kita tanyakan, atau bisa kita amati dari keseharian mereka.
***
Seharusnya kita tidak kalah dengan
perasaan kita sendiri. Kita tidak memperturutkan hasrat, tidak memberi makan
nafsu, tidak menuhankan cinta. Kita akan menang karena kita yang punya kendali
atas perasaan. Kita menyadari bahwa hadirnya ketertarikan adalah niscaya, maka
kita bersiap menghadapinya.
Pertama, kita mengiba di hadapan
Allah. Mengaku bahwa diri amat lemah dan Dia yang paling perkasa. Mengaku bahwa
kita tiada daya dan Dia yang paling berkuasa. Bahkan pada hati kita, kita tak
memilikinya, Allah yang menggenggamnya. Kita tidak bisa kendalikan apa-apa yang
menarik bagi hati kita, maka pada-Nya kita mohon perlindungan dari apa-apa yang
terlihat baik yang ternyata buruk, dari apa-apa yang indah ternyata
menyesatkan. Memiliki ketertarikan, memiliki perasaan, sungguh bukanlah sebuah
dosa, kita tidak perlu serta-merta membunuhnya. Sikap kita atas perasaan itu
yang akan menentukan, apakah kita akan kalah atau menang. Kita adalah orang-orang
yang menang, maka kita mengambil sikap, melangkah, dan memutuskan atas dasar
petunjuk Rabb kita.
Lalu, kita akan memilih antara “iya”
dan “tidak”. Pada pilihan “tidak” mengungkapkan, kita menyadari ketidaksiapan
diri kita, maka kita berpuasa untuk meredam gejolak perasaan. Pada pilihan
“tidak”, kita tidak berkata-kata setinggi Romeo, tidak memberi pengharapan dan
rencana-rencana, karena rencana tanpa tindakan, tanpa keberanian adalah
ragu-ragu atau ketakutan. Jika kita memilih “iya”, berani untuk mengungkapkan,
kita bersiap untuk sebuah tanggung jawab dan komitmen yang besar. Pada pilihan
“iya”, kita tidak bermain-main dan coba-coba. Bahkan pada pilihan “iya”, kita
tidak akan berani berjanji terlalu banyak tentang masa depan, karena kita
menyadari kita tidak berkuasa atas diri kita. Tapi ketidak mampuan untuk
memberi janji itu justru diiringi usaha terbaik dalam memikul tanggung jawab
dan menjaga komitmen. Pada pilihan “iya” dan “tidak”, kita tidak menerobos
aturan-aturan. Apapun pilihan kita, kita bingkai dengan bingkai ketaatan.

Komentar
Posting Komentar