Hari itu Edward Jenner membuat sayatan kecil di lengan James Phipps, seorang anak berusia 8 tahun. Jenner lalu menggosok sayatannya dengan cairan dari ruam tangan seorang pasiennya yang menderita cacar sapi. Beberapa hari kemudian James Phipps sakit ringan, tertular cacar sapi. Jadilah Edward Jenner tahu, bahwa cacar sapi bisa menular dari manusia ke manusia, bukan hanya dari sapi ke manusia. Langkah selanjutnya adalah langkah yang mendebarkan, sekaligus langkah yang akan membuktikan. Edward Jenner menyuntikkan cairan yang diambil dari ruam cacar pada James Phipps. Dan amat melegakan, James tidak sakit cacar, ia sehat1.
Jenner menyebut prosedur ini sebagai vaccination, karena vacca dalam bahasa latin berarti sapi dan vaccinia berarti cacar sapi2. Inilah dia awal dari pemberantasan penyakit yang telah lama menjadi momok manusia, yang angka kematiannya amat tinggi dan bahkan kesembuhannya meninggalkan bekas yang amat tidak menyenangkan.
Hari itu, saat Jenner memperkenalkan hasil pemikiran, analisis dan penelitiannya tentang vaksin, banyak pihak meragukannya. Tentu saja, karena ini metode baru, hal baru yang masih menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan. “Apakah ini lebih aman dari metode variolasi (metode pencegahan cacar yang sudah umum digunakan)? Apakah ini efektif? Metode ini akan sulit, karena cacar sapi tidak terjadi secara umum, sehingga dokter yang ingin melakukan vaksinasi harus mendapat sampel dari Jenner.”1 Mungkin demikian pernyataan para ahli saat itu. Tentu ini wajar, pertanyaan-pertanyaan itu justru akan membuat semua lebih terang, semua menjadi jelas. Karena mereka bertanya, mereka akan mencari jawabannya, karena mereka ragu, mereka akan cari tahu kebenarannya. Maka, jika metode vaksinasi benar aman dan efektif, mereka akan segera mengusahakannya dengan penuh keyakinan. Selesai.
Tapi ada banyak orang lain yang mentah-mentah menentang vaksin. Sebagian karena ketakutan harus menerima zat yang berasal dari sapi. Sebagian karena tidak mau diobati dengan sesuatu yang derajatnya lebih rendah dari manusia (baca:sapi)1. Bagaimana meyakinkan orang-orang ini? Mungkin agak Sulit. Kadang bukti-bukti tidak cukup untuk membuatnya percaya.
Hampir dua abad setelah Jenner berharap bahwa vaksinasi bisa memberantas cacar, pada tanggal 8 Mei 1980, WHO secara resmi mengumumkan bahwa dunia telah terbebas dari cacar3. Betapa melegakannya.
Hari ini, vaksinasi dilaksanakan secara masif, sebagai usaha untuk menekan pandemi Covid-19. Per 29 Juli 2021 3.839.816.037 dosis vaksin telah diberikan4. Penelitian-penelitian terus dilakukan. Hasilnya vaksinasi mengurangi risiko infeksi, meringankan gejala dan tentunya mencegah kematian5,6. Jadi apakah setelah divaksin tidak akan bisa sakit? Apakah setelah divaksin tidak akan mati karena Covid-19? Tidak. Tentu saja tidak. Vaksin adalah satu anak panah yang kita lontarkan, dan kita tidak tahu seberapa jauh daya lontar kita (baca:sistem kekebalan), dan kita tidak tahu seberapa banyak musuh kita (baca:virus). Ada banyak faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Tapi coba kita lihat angkanya, 65,9% menurunkan kasus bergejala, 87,5% menurunkan kasus rawat inap, 90,3% mencegah masuk ICU, dan 86,3% mencegah kematian karena Covid-196. Tentu kita tidak akan melewatkan angka yang signifikan ini.
Sama seperti saat pertama Jenner bicara tentang vaksin, kita tentu mengalami keraguan, apakah ini aman? Apakah ini efektif? Ya, kita adalah orang yang bertanya dan mau mencari tahu, bukan orang yang mentah-mentah menolak vaksin dengan alasan yang entah bagaimana bisa dibantah. Maka sedikit penjelasan di atas semoga bisa membawa kita pada keyakinan, bahwa vaksinasi harus cepat-cepat kita lakukan. Sambil terus melaksanakan protokol kesehatan, saling peduli dan mengingatkan, kita berharap WHO segera mengumumkan, bahwa dunia telah bebas dari Covid-19. Ditengah dunia yang semakin canggih, transportasi semakin cepat dan informasi semakin banyak, ditengah masyarakat yang selalu mau mencari kebenarannya dan patuh pada himbauan para ahlinya, kita berharap, kita tidak perlu menunggu dua abad untuk bebas dari Covid-19.
Terakhir, barangkali akan lebih mudah bagi kita memahami lewat gambar dibanding kata-kata. Berikut gambar yang mungkin bisa mewakili penjelasan diatas.
![]() | |
| Cacar: Tidak vaksin VS Vaksin Sumber: https://twitter.com/drjennershouse/status/1129788165768785921 |
![]() |
| Covid-19: Tidak vaksin VS vaksin Sumber: https://twitter.com/FaheemYounus/status/1416782955352100873 |


Komentar
Posting Komentar