End


Seperti apa waktu berjalan? Apakah dia mengalir seperti air? Atau berhembus seperti angin? Apapun itu, nyatanya waktu bukanlah jarum yang berdetik, bukan juga denting yang berputar. Ditengah gugup yang menderu, diatas khawatir dalam menunggu, waktu adalah siput. Lama untuk mencapai momen selanjutnya. Disaat tawa-tawa terdengar, ketika diskusi belum bertemu sepakat, waktu adalah kilat. Sekejap lalu hilang. Lalu, enam tahun kita barangkali bukanlah enam tahun. Sebanyak apa peristiwa dan sebanyak apa pelajaran, barangkali itulah hitungan waktu kita. Berkali-kali menjadi lebih cepat, berkali-kali pula melambat di tengah pertemuan-pertemuan kita.

Kawan, hari ini enam tahun adalah satu hari. Teringat lagi awal tangan kita saling menjabat, lalu berjalan melewati segala yang harus dilewati, hingga akhirnya selesai waktu kita di sini. Maka setelah ini, masing-masing dari kita akan menjadi arti yang baru, melesat, bertempat pada masing-masing tempatnya.

Kawan, seperti gelap yang memberikan arti pada terang, seperti duka yang memberikan arti pada bahagia, inilah dia, perpisahan, yang memberikan arti pada sebuah pertemuan. Barangkali kita tidak pernah tahu arti jabat tangan itu jika perpisahan tidak pernah tiba. Jabat tangan yang mengawali perjalanan, didalamnya tergambar suka, duka, kecewa, lega, khawatir, pasrah dan segala rasa yang bisa dirasa manusia. Diatas semua itu kita berjalan, bertemu, berkumpul, tapi bukan untuk menjadi satu. Segala yang kita dapat adalah untuk tumbuh, untuk selanjutnya lepas, mengambil satu dari banyak peran kebaikan. Setelah ini kita akan pulang, bukan dengan kebanggaan, bukan sebagai pemenang. Kita pulang dengan bertumpuk-tumpuk tanggung jawab yang menuntut diselesaikan.

Selamat kawan, selamat untuk selanjutnya berlari menjadi bentuk-bentuk kebaikan. Hingga nama-nama kita habis diujung waktu, semoga langkah-langkah kita selalu ada dalam kebaikan. Semoga kita selalu mampu memaknai kehidupan.  

 











Komentar

Posting Komentar