Betapa menyedihkannya rasa kehilangan. Ketika kita baru saja menyadari, apa-apa yang biasanya ada tiba-tiba hilang. Seperti lubang yang menjebak, kita merasa pijakan itu masih kuat, ternyata kini sudah amat rapuh, dan kaki kita terperosok begitu saja kedalamnya. Begitu mengejutkannya rasa kehilangan.
Mengapa kita merasa kehilangan?
Karena kita merasa memiliki. Seberapa banyak kita merasa kehilangan, sebanyak
itu pula kita merasa memiliki. Dalam diam, dalam hening, cobalah kita pikirkan
lagi, seberapa kuat rasa kehilangan itu melemahkan kita. Dalam kehilangan yang
amat menyedihkan, seberapa jauh rasa kita dalam memiliki? Dalam hening, dalam
sepi, cobalah kita pikirkan lagi, memangnya seberapa banyak yang benar-benar
menjadi milik kita? Apakah benda-benda yang kita simpan itu memang milik kita? Apakah
pencapaian-pencapaian yang kita banggakan itu memang milik kita? Apakah
keinginan-keinginan yang besar itu memang ada dalam genggaman kita?
Duhai kawan,,,bukankah kita
datang tidak dalam membawa sedikitpun kepemilikan? Bahkan diri kita juga bukan
milik kita, samasekali kita tidak punya keputusan apapun pada apa-apa yang akan
terjadi pada diri kita, pada barang-barang kita, pada pencapaian-pencapaian
kita. Maka semua yang ada dalam genggaman kita hari ini, untuk apa sebenarnya? Untuk
apa kita diberi kepercayaan untuk menggunakannya jika ternyata itu bukanlah
milik kita? Duhai,,,betapa kita ini amat beruntung kawan, karena Yang Memberikan
Kepercayaan itu telah menjelaskan dalam kata-kata-Nya.
Rasa kehilangan itu seberapa besar menyakitkannya? Sebesar itu pula rasa kepemilikan kita. Maka menyadari bahwa kita tidak pernah memiliki, akan mengurangi rasa sakitnya. Dan dalam kehilangan, dalam rasa sabar, ketika hati menjadi lebih luas, bukankah kita akhirnya akan mendapatkan lebih banyak?

Komentar
Posting Komentar