Novel ini terbit
pertama kali tahun 1976. Tiga puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka. Yang masa
itu nggak umum seorang ulama menulis kisah-kisah fiksi (ya mungkin sampai
sekarang juga ya?). Novel ini sudah difilmkan, saya sudah lihat filmnya sebelum
akhirnya nemu novelnya. Waktu lihat filmya, agak bosan, karena durasinya
panjang, dan gemes dengan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokohnya. Kenapa pada
sok jual mahal? Kenapa agak plin-plan dan tidak setia?
Sampai suatu
saat saya tahu bahwa penulisnya adalah Hamka, maka saya carilah novel aslinya
karena penasaran bagaimana sebenarnya isinya, dan penasaran bagaimana jika
seorang ulama besar macam Hamka ketika menulis cerita fiksi, tentang romance pula. Dan akhirnya, nemu e-booknya. Dan saya baca. Dan lewat
narasi-narasi yang disampaikan Hamka saya jadi paham, kenapa tokoh-tokohnya
mengambil keputusan demikian. Dan ternyata banyak sekali pesan yang bisa saya
ambil dari membaca novelnya. Dan ternyata saya lebih baper setelah membaca
novelnya.
Tokoh utamanya
adalah Zainudin, anak dari seorang Minang yang dibuang ke Makasar karena sebuah
kesalahan. Setelah ayah ibunya meninggal diusia muda, Zainudin memutuskan
merantau kembali ke kampung ayahnya, Batipuh. Sayang sekali, di kampung ayahnya
Zainudin tidak begitu diterima karena dianggap bukan orang minang asli, sering
dia tidak dilibatkan dalam berbagai keperluan. Tapi Zainudin sungguh dikenal
sebagai pemuda yang baik budinya.
Kisah romancenya
adalah antara Zainudin dan Hayati. Gadis cantik yang keluarganya menjunjung
tinggi adat-adat minang. Keduanya dengan sangat hati-hati dan saling menjaga
diri, saling berkirim surat. Zainudin yang merasa tidak punya sandaran, merasa
beruntung ketika Hayati mau menerima surat-suratnya, walau ia tak pernah minta
dibalas. Dan tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka. Ceritanya mungkin
mendayu-dayu, klise sekali, cinta beda suku, tapi saya baper sekali membacanya.
Hehe.
Ini sedikit
cuplikan jalan cerita dan pelajaran yang bisa diambil:
PINTU CINTA
HAYATI
“Dalam surat itu nampak isi perasaan Hayati, perasaan yang belum pernah diterangkannya kepada orang lain. Sebenarnya, dia amat kasihan melihat nasib Zainuddin orang jauh itu. Di sini tak mempunyai kerabat yang karib, dan ayahnya pun telah meninggal pula. Akan pulang ke Mengkasar, hanya pusaka ayah bunda yang akan ditepati. Sikap Zainuddin yang lemah lembut, matanya penuh dengan cahaya yang muram, cahaya dari tanggungan ba-tin yang begitu hebat sejak kecil, telahmenimbulkan kasihan yang amat dalam di hati Hayati. Dan cinta, adalah melalui beberapa pintu. Ada dari pintu sayang, ada dari pintu kasih, ada dari pintu rindu, tetapi yang paling aman dan kekal, ialah cinta yang melalui pintu kasihan itu”
Cinta Hayati adalah karena kasihan, disini
Hamka menyebutkan bahwa cinta yang paling aman dan kekal adalah dari pintu
kasihan. Saat membaca saya tidak menganggap itu penting dan tidak tahu juga
maksudnya. Tapi suatu saat saya mendengar ceramah Ust. Felix Siaw menjelaskan
tentang kalimat Hamka itu. Ustadz Felix menjelaskan bahwa, cinta melalui pintu
kasihan itu adalah seperti cinta Tuhan kepada hambanya. Cinta yang penuh
pengampunan, cinta yang penuh pemaafan. Kasihan itu melampaui keadilan. Jika
keadilan mengatakan untuk menghukum yang salah, maka kasihan akan memberi maaf.
Jika keadilan membalas kebaikan sesuai kadarnya, maka kasihan membalas kebaikan
melampaui kebaikan itu sendiri. Waw, benar juga ya. Cinta dari pintu kasihan
tidak menuntut apa-apa, justru memberikan daya untuk memberi
sebanyak-banyaknya.
MENGAPA HAYATI
MEMILIH AZIZ
Perasaan Hayati
amat jelas dan tegas, dia mencintai Zainudin, dan Hayati amat menyadarinya. Tapi
apa yang membuat Hayati memilih menerima lamaran Aziz daripada Zainudin? Padahal
Hayati sudah jelas-jelas bersumpah menunggu Zainudin seberapapun lamanya. Sudah
bisa ditebak sebabnya? Ya!
1. Tentu
saja hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh keluarga Hayati “Zainudin itu tidak bersuku!”.
2.
Zainudin
tidak punya harta sebanyak Aziz
3.
Zainudin diolok-olok oleh teman Hayati.
Orang-orang kota yang modern. "Rupanya alim betul kenalanmu
itu!". “Engkau akan dikurung dalam rumah, menurut
adat orang Arab, tak boleh kena cahaya matahari, turun sekali sejum'at. Dan
bila engkau berjalan beriring-iringan dengan dia, tak boleh laki-laki lain
menentang mukamu, tutup muka dengan selendang, sebagai kuda bendi dengan tutup
matanya. Kalau dia hendak pergi ke mana-mana, kunci rumah dibawanya, engkau
hanya didapur saja”
Saat melihat filmnya, menurut saya alasan kenapa Hayati akhirnya memilih Aziz adalah karena alasan nomer satu dan dua saja. Tapi ternyata poin nomer tiga justru yang mengikis rasa cinta dalam hati Hayati. Dalam novelnya Hamka menjelaskan:
“Tetapi cinta perempuan kepada laki-laki
sebaliknya dari itu. Liaki-laki pada pemandangan perempuan adalah laksana dukuh
emas yang tergelung dilehernya, atau gelang bertatah berlian yang melilit
tangannya, perhiasan yang akan dibanggakannya kepada kawan sesama gedangnya.
Seburuk-buruk kecintaannya akan lupa dia keburukan itu, kalau laki-laki lain
atau perempuan lain memujinya dekat dia, mengatakan dia seorang laki-laki yang
tangkas berbudi, temama, termasyhur dan lain-lain sebagainya.
Maka
nyatalah bahwa cinta perempuan kepada laki-laki lebih banyak berdasarkan
ketakburan dari pada kenafsuan. Pengakuan orang lain atas kemuliaan
kecantikannya atau tunangannya atau suaminya, bagi seorang perempuan adalah sebagai
satu kemenangan di dalam perjuangan.
Oleh sebab yang demikian, tidaklah patut kita heran, jika Hayati termenung, mukanya tertekur, kepalanya berasa sakit, melihat kecintaannya tidak segagah orang lain, tidak sepandai orang lain memakai pakaian, seakan-akan orang yang tersisih.”
Begitulah Hamka
menjelaskan bagaimana sifat perempuan jika mencintai. Maka setelah kata-kata
temannya itu didengar Hayati, ia sering teringat kata-kata itu. Maka, turunlah
rasa cinta itu kembali kerasa kasihan. “Kasihan
nasibmu Zainudin”. Setelah teringat adat yang kokoh di Minang, maka jelas
sekali sulit menerima Zainudin. Jadilah Hayati menurut saja pada kemauan
keluarganya, mengambil Aziz sebagai suami Hayati.
MENGAPA ZAINUDIN MENOLAK HAYATI
Jalan cerita membawa Zainudin kembali bertemu Hayati, Aziz yang banyak berhutang memilih mengakhiri hidupnya. Kini Hayati sendiri, Zainudin juga sendiri. Hayati yang telah paham kesalahannya, meminta maaf pada Zainudin, dimintanya agar ia bisa hidup dekat Zainudin. Tapi, inilah keputusan Zainudin. Justru Hayati diberi tiket pulang kembali kekampungnya. Saat melihat filmnya, saya merasa, jual mahal sekali Zainudin ini. Sudah jelas bahwa perasaanya masih sama kepada Hayati. Tapi dalam novelnya Hamka menjelaskan:
“Laki-laki bilamana telah menentukan cintanya untuk seorang perempuan, maka perempuan itu mesti jadi haknya seorang, tak boleh orang lain hendak ikut berkongsi dengan dia. Jika perempuan itu cantik, maka kecantikannya biarlah diketaluii olehnya seorang. Jika suara perempuan itu nyaring, biarlah dia seorang yang mendengamya. Sebab itu, kalau ada orang lain yang hendak memuji kecintaannya, atau mengatakan suaranya nyaring, atau menyanjung budi baiknya, semua itu tidaklah diterima oleh laki-laki yang mencintainya tadi. Bertambah banyak orang memuji kecintaannya, bertambah timbullah cernburu dalam hatinya, sebab perempuan itu untuk dia, buat dia, tak boleh buat orang lain. Tetapi takdirnya ada orang yang mencela, mengatakan perempuan yang dicintainya itu buruk tidak serupa perempuan lain, kalau ada orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya, sebab dia telah memberikan cinta hati kepada seorang perempuan, yang kecantikannya tidak patut mendapat penghargaan setinggi itu, kalau ada orang mencatat, merendahkan, maka semuanya itu bagi laki-laki yang bercinta tadi, akan menambah patri cintanya dan menambah harga perempuan itu di matanya.”
Demikianlah Hamka menggambarkan sifat laki-laki ketika mencintai. Teringat bahwa Hayati adalah bekas istri Aziz, teringat bahwa Hayati telah menyakitinya, teringat Hayati yang lebih memilih bersuamikan orang berharta. Timbul marah atau mungkin cemburu juga dalam diri Zainudin, walau masih jelas juga cintanya pada Hayati.
“Tidak Hayati! Saya tidak kejam, saya hanya menuruti katamu. Bukankah engkau minta di dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal? Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Engkau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan isteriku, tetapi janda dari orang lain. Sebab itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara, saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu, sebagaimana teguhku dahulunya memegang cintaku.”
Yah,,,itulah keputusan Zainudin. Membuang kesempatan untuk merawat cintanya dengan Hayati. Dengan demikian Zainudin mengira bahwa setelah ini akan lega hatinya karena telah menghukum Hayati. Tapi Zainudin masih mengira bahwa hukuman itu hanya untuk Hayati, padahal sebenarnya penderitaan setelah keputusan itu juga menimpa Zainudin. Tapi sesal Zainudin terlambat, amat terlambat. Hayati telah sekarat saat Zainudin menyadarinya.
Menurut saya, novel ini memberikan
pelajaran “Cinta saja tidak cukup, kita juga perlu ilmu”. Untuk mengenali apa
sebenarnya yang kita butuhkan, bagaimana sebenarnya mengelola perasaan,
bagaiman seharusnya mengambil keputusan, kita perlu ilmu. Tidak sekedar menurut
pada keinginan dan perhitungan akal.
Sekian

Komentar
Posting Komentar