Bagaiman seharusnya kita menghadapi “nasi sial”? Mungkin sedikit kisah ini bisa menunjukkan pada kita, kemana kita seharusnya membawa “nasib sial” yang menimpa kita.
Ketika seorang anak yang amat
disayang oleh ayahnya dibanding sepuluh saudaranya yang lain. Karena wajahnya
amat menyenangkan, karena perilakunya menunjukkan kebaikan. Maka rasa iri
tumbuh dan merusak hati sepuluh saudaranya. Demi mendapat perhatian yang sama
dari sang ayah, rencana-rencana dibuat, cerita-cerita dikarang. Apa pula salah
anak tampan dan baik ini? Hingga harus menerima “nasib sial” ini? Dibuang
saudara-saudaranya kedalam sumur, dikatakan pada sang ayah bahwa anak
kesayangannya telah dimakan serigala.
Setelah beberapa lama menunggu
dalam sumur yang gelap, pertolongan itu datang. Anak itu dikeluarkan dari sumur,
bukankah penolong ini akan membantunya kembali ke keluarganya? Lalu anak ini
bisa bersaksi didepan ayahnya bahwa saudara-saudaranya sudah begitu jahat. Tapi
“sial” sekali nasib anak ini. Penolong itu justru membawanya jauh dari
kampungnya, dijual dia sebagai budak.
Maka anak itu tumbuh jadi pemuda
tampan, sebagai budak seorang pejabat negeri yang istrinya amat cantik. Siapa juga
yang menyangka, istri majikannya yang cantik itu tertarik pada budaknya. Maka
dibuat situasi, pintu-pintu ditutup, jendela-jendela dirapatkan. Duhai,,,pemuda
ini juga seorang pemuda, ada gejolak pada dadanya. Tapi, berlindung dia pada
Tuhannya.
“Aku berlindung kepada Allah. Bagaimana mungkin aku menghianati
majikanku. Aku tidak ingin mengingkari hak Allah dan suami mu”
Maka saat pemuda itu berlari
menuju pintu, dan ketika istri majikannya mengikutinya, telah berdiri dibalik pintu
majikannya yang bijaksana. Dengan kebijaksanaannya, pejabat itu tahu apa yang
sedang terjadi. Istrinya berniat berkhianat. Maka tersebar berita bahwa seorang
istri pejabat yang terhormat, yang amat cantik, tergoda oleh seorang budak. Tidak
terima dirinya dibicarakan, diundanglah para perempuan kerumahnya, disuruh pemuda
itu berjalan, lewat saja di hadapan mereka. Dan para perempuan itu, bahkan
tidak sadar bahwa mereka sedang memotong jari-jari mereka sendiri. Dan para
perempuan itu berhenti menggunjing istri pejabat, karena mereka juga amat
tertarik pada pemuda itu. Pemuda itu, kini diberi pilihan, menanggalkan
kesuciannya atau dikurung dalam penjara. Duhai,,,pemuda ini juga seorang
pemuda, ada gejolak dalam hatinya. Tapi, dia hanya berlindung pada Tuhannya
“Lebih baik aku dipenjara”
Apa yang salah dari seorang
pemuda yang ingin menjaga dirinya? Hingga dia kini harus dipenjara? “Sial” sekali
nasib pemuda ini.
Dalam penjara pemuda tampan ini
bertemu dua orang teman, yang meminta bantuannya untuk mengartikan
masing-masing mimpinya. Dua orang itu mendapat jawaban, jawaban yang
benar-benar jadi nyata. Satu menjadi pelayan raja. Satu akan mati dan
bangkainya dimakan burung-burung. Maka berpesan pemuda rendah hati ini pada
teman yang akan jadi pelayan raja, supaya disampaikan pesannya pada raja, bahwa dia tidak pernah berbuat kejahatan, bahwa kebenaran harus ditegakkan, bahwa dia harus bebas dari penjara karena memang tidak ada kesalahannya. Dan ketika
temannya benar-benar menjadi pelayan yang ada disamping raja, tidak pernah ia
adukan keadaan pemuda tampan itu pada raja. Aduh, betapa “sial” nasib pemuda
ini. Bahkan teman yang sudah dibantunya, entah lupa, entah tidak setia, tidak
juga mengadukan nasibnya pada raja. Hingga akhirnya, setelah tujuh tahun, pelayan raja itu
mengajukan pemuda tampan itu sebagai penakwil mimpi raja.
Maka setelah itu, terbukti bahwa
pemuda itu tidak punya kesalahan hingga ia harus dipenjara. Ia bebas. Raja mengangkatnya
sebagai pejabat negeri, mengurus urusan pangan. Maka makmurlah negeri itu. Bahkan
saat kemarau, lumbung-lumbung gandum masih penuh. Maka berdatangan orang-orang
dari negeri jauh demi membeli gandum. Maka, datang pula saudara-saudaranya yang
telah membuangnya dulu. Maka, berkumpul lagi keluarga yang tercerai oleh rasa
iri itu. Maka terobati rindu seorang ayah yang amat mencintai anaknya. Maka tiada
lagi iri dalam hati saudara-saudaranya.
Pemuda ini, sama sekali tidak
pernah menyesali “nasib sialnya”. Dia tahu bahwa tugasnya hanya berbuat
kebaikan, apapun hasilnya. Betapapun sulit pilihan, hanya jalan kebaikan yang dipilihnya. Karena dia paham bahwa:
“Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan”
Maka pemuda ini pada akhirnya
mendapat kemuliaan.

Komentar
Posting Komentar