Hari ini, ketika kita ingat-ingat
kembali kejadian-kejadian. Kita menyesalkan banyak peristiwa-peristiwa. Kepada keadaan,
kepada diri kita sendiri, kepada orang-orang sekitar kita, kita menaruh banyak
rasa sesal diatasnya. “Mengapa dulu tidak begini?”, “Seharusnya dulu bisa
begitu!”. Baiklah, kita akui banyak hal-hal yang telah kita sesali. Dan kini
kita berfikir “Seharusnya kita jadi lebih baik, jika dulu kita begini”, “Seharusnya
tidak sesulit ini, jika dulu kita tidak begini”. Baiklah, sekali lagi, kita
akui banyak hal-hal yang telah kita sesali.
Namun, seberapapun besar rasa
sesal itu, kejadian itu tempat yang amat jauh, yang tidak mungkin kita kembali
padanya. Tentang diri kita yang sempat berbuat salah, tentang keadaan yang
tidak menguntungkan, tentang orang-orang yang pernah membuat rasa kesal, tidak
mungkin kita mengubah kejadian-kejadian yang telah berlalu itu. Kita hanya bisa
menyesalinya.
Namun, apalah guna sebuah sesal?
Bukankah telah jelas ia tidak mengubah apapun? Ia sama sekali tidak mengubah
kenangan. Waktu yang berlalu itu, tetap pada tempatnya. Apakah kita akan
menghabiskan waktu kita hari ini hanya untuk menyimpan perasaan menyesal? Memeliharanya,
mengijinkan ia berandai-andai, membuat gambaran-gambaran tentang kita hari ini
jika dulu begini atau begitu. Sedangkan kita hari ini adalah kita yang dulunya
tidak begini dan begitu. Bukankah itu juga sebuah kesalahan? Bukankah kesalahan
akan menjadikan sesal? Lagi.
Bagaimana jika kita terima saja
semuanya? Semua yang berlalu itu, kita terima sebagai bagian dari waktu-waktu
kita. Semua yang berlalu itu, kita terima sebagai peristiwa-peristiwa yang
membentuk kita hari ini. Bukankah kita bisa coba untuk berdamai dengan
kejadian-kejadian itu? Jika sesal itu karena kita yang berbuat salah, bukankah
akhirnya kita belajar banyak dari kesalahan itu? Jika itu orang-orang
menyebalkan yang membuat sakit hati, bukankah akhirnya kita bisa belajar
bagaimana menghargai? Jika itu keadaan yang amat tidak menguntungkan, bukankah
kita akhirnya menyadari bahwa kita ini hanya perencana, penentunya adalah
Pencipta kita.

Komentar
Posting Komentar