Curiga


Tentu saja sangat sulit bekerja sebagai penguasa, yang harus memikirkan kepentingan yang amat beragam. Berkoordinasi dengan banyak sekali pihak demi sebuah program yang mencakup wilayah yang amat luas. Banyak sekali yang harus diatur, anggaran, agenda, program kerja, undang-undang. Dan hari ini yang paling membuat pusing, tentu saja pandemi Covid-19 yang mengancam kesehatan dan meminuskan ekonomi. Aduh,,,pasti susah sekali jadi penguasa. Berapa jam ya mereka tidur dalam sehari demi memikirkan masalah-masalah ini? Kemana saja ya mereka bertanya demi memecahkan masalah-masalah ini? Baiklah, dibentuk gugus tugas percepatan penangan Covid-19, bantuan tunai diberikan, peraturan-peraturan dibuat. Dilarang berkerumun, batasi kegiatan diluar rumah, bubarkan keramaian. Aduh,,,tapi protes dimana-mana. Pedagang-pedagang kecil tidak terima, aturan ini menyusahkan sekali bagi mereka. Mereka yang tidak punya sisa tabungan, yang makan hari ini dari pendapatan hari ini juga. Aduh,,,bagaimana ini bapak-bapak penguasa? Kasihan juga jika mereka dilarang jualan, cicilan mereka juga banyak. Tapi, penyebaran Covid-19 juga harus dihentikan. Bingung betul saya melihatnya Pak, apalagi Bapak-Bapak yang harus mengurus itu semua, pusing sekali pasti. Maaf Pak saya juga tidak tahu bagaimana solusinya, saya cuma bisa bingung saja. Rumah sakit banyak yang penuh, tenaga kesehatan banyak yang kelelahan, banyak yang meninggal. Bagaimana ini Pak? Mereka sudah baik sekali tetap mau bekerja dalam keadaan seperti ini. Orang-orang berilmu itu meninggal begitu saja Pak, bagaimana cara mengganti pengalaman dan pendidikannya? Maaf Pak saya juga tidak tahu soluinya, saya cuma bisa bingung saja. Diitengah situasi yang sulit ini, ketika penguasa sibuk menata, membuat peraturan-peraturan, ketika tenaga kesehatan susah payah membangun kepercayaan pada masyarakat. Ada yang enak sekali bilang semua ini cuma kebohongan. Tidak perlu pakai masker, tidak perlu membatasi aktivitas, berkumpul tidak apa-apa. Mereka ini tentu merepotkan sekali, tuduh sana tuduh sini. Mengumumkan bahwa rumah sakit mencari keuntungan, bahwa tenaga kesehatan sedang mencari kesempatan. Mereka ini harusnya diapakan Pak? Ditangkap semuanya? Dihukum? Aduh,,,tapi banyak sekali yang percaya dengan teori-teori mereka. Maaf Pak, saya juga tidak tahu solusinya, saya cuma bisa bingung saja.

Ketika saya tidak tahu harus memberikan solusi apa, harus bagaimana menanggapi masalah-masalah ini, saya harap Bapak-Bapak penguasa sudah merumuskan solusinya. Mencari jalan terbaiknya, bersama ahli-ahli dibidangnya, Bapak-Bapak tentunya berdiskusi panjang lebar mencari jalan keluarnya. Dengan semua kuasa ditangan Bapak, tentu ada sesuatu yang bisa dilakukan. Saya harap Bapak-Bapak punya cara untuk menahan berita-berita bohong yang semakin luas tersebar. Saya berharap Bapak-Bapak bisa meredam kepanikan yang tidak perlu, tapi juga tetap mendorong masyarakat untuk tetap waspada.

Baru-baru ini kami dengar. Bapak berbicara didepan publik. “Jangan semua kematian definisinya mati karena Covid. Ini perlu diluruskan.” Apakah ini sebuah tuduhan Pak? Saya harap bukan. Ini mungkin adalah peringatan bagi pihak-pihak yang memang sedang mengambil keuntungan dari situasi ini. Mungkin Bapak memang benar menemukan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Tapi Pak, kedudukan Bapak amat tinggi, amat terhormat, maka kalimat itu didengar oleh banyak sekali orang. Saya rasa kalimat itu amat menyakiti hati mereka yang telah bekerja menahan lelah dan mengharap situasi ini cepat berakhir.  Bahkan mereka mungkin belum menerima upah lebih yang telah Bapak-Bapak janjikan untuk situasi ini. Apakah banyak sekali kejadian itu Pak? Hingga Bapak harus membuat pernyataan seperti itu? Saya rasa sulit sekali membangun kepercayaan pada masyarakat ditengah banyaknya berita bohong saat ini. Tapi, pernyataan Bapak, saya rasa bisa benar-benar menurunkan rasa percaya masyarakat. Sekali lagi, karena Bapak bukan orang biasa, Bapak adalah penguasa yang berpengaruh dan terhormat, penyataan itu amat diperhitungkan orang-orang.

Berbulan-bulan kita menghadapi pandemi. Banyak sekali agenda-agenda harus ditunda, sekolah-sekolah diliburkan, bekerja dan beribadah harus dari rumah. Disini, ditempat saya sekarang, banyak anak-anak yang mulai bosan dirumah. Bosan sekali setiap hari hanya didepan layar, mengerjakan tugas sendirian, tidak ada teman, orang tua kadang sibuk bekerja saat anak-anak ini punya pertanyaan. Disini, ditempat saya sekarang, cukup banyak kesulitan dalam proses pembelajaran. Bagaimana keadaan di pelosok sana? Yang tidak semua punya fasilitas, yang sinyalnya tidak baik? Aduh,,,saya tidak tahu bagaimana mereka bisa belajar. Sekolah-sekolah sepi, kampus-kampus tidak ada kesibukan. Semua belajar dari rumah.

Baru-baru ini kami dengar, bahwa pemilihan kepala daerah yang baru tidak bisa ditunda. Demi kepentingan rakyat, demi kepentingan banyak pihak, pemilihan kepala daerah harus tetap dilaksanakan. Tentu banyak negara lain yang juga mengadakan pemilihan, tapi setau saya, sekali lagi hanya sebatas pengetahuan saya, negara-negara itu telah bisa melandaikan angka penularannya. Jumlah tes yang dilakukan jauh diatas kita. Untuk kondisi kita hari ini Pak, apakah harus kita tetap mengambil risiko? Bukankah akan ada kemungkinan terbentuknya kerumunan-kerumunan? Baiklah Pak, tentu saja akan dilaksanakan dengan hati-hati, dengan menerapkan peraturan-peraturan kesehatan. Tapi jika saya lihat, sekali lagi ini hanya dari penglihatan saya, saat ini saja sudah banyak kerumunan dalam rangkan menghadapi pemilihan ini, tanpa memperhatikan peraturan-peraturan yang telah Bapak tentukan. Dan ketika Bapak dimintai pendapat tentang hal tersebut, ditunjukkan bukti-bukti tersebut, Bapak bilang itu bentuk profokasi. Tapi menurut saya, sekali lagi menurut saya, Bapak hanya marah-marah, tidak mau dituduh apalagi bertanggung jawab atas hal tersebut. Maaf ya Pak.

Entahlah Pak, apakah memang dari awal pandemi ini memang tidak dianggap serius atau bagaimana, saya tidak tahu apa yang ada dibenak Bapak-Bapak sekalian. Tapi jika dilihat dari pernyataan Bapak-Bapak beberapa bulan lalu, saya bisa menyimpulkan, sekali lagi ini hanya kesimpulan saya, bahwa kita memang kurang bersiap.

“Corona tidak bisa masuk ke Indonesia, karena izinnya susah”

“Corona tidak akan masuk Indonesi karena setiap hari kita makan nasi kucing”

“Kita mungkin kebal karena sudah sering batuk pilek”

“Ternyata disini ada yang bisa menangkal corona, yaitu susu kuda liar”

Betapapun kalimat-kalimat itu hanya sebuah candaan, tapi kalimat-kalimat itu datang dari Bapak-Bapak sekalian, yang pangkatnya tinggi, yang kekuasaannya besar, yang pengaruhnya luas, dari Bapak-Bapak yang dibayar bukan untuk bercanda.

Lalu setelah berbulan-bulan pandemi melanda, ketika angka tidak juga melandai, terang-terangan wakil-wakil kami sibuk membahas hal lain, mengesahkan peraturan-peraturan lain (UU Cipta Kerja), yang bahkan mengundang banyak protes, penolakan disana-sini. Tapi tiba-tiba, dengan terburu-buru, lebih cepat dari rencananya, Rancangan Undang-Undang sudah sah menjadi Undang-Undang. Aduh,,, bagaimana ini? Penguasa kami suka sekali bercanda, wakil-wakil kami entah peduli atau tidak dengan pendapat-pendapat kami. Apakah Bapak-Bapak sekalian benar-benar memikirkan kepentingan orang banyak? Saya curiga..........

Dalam sejarahnya memang penguasa rentan sekali diprotes Pak, karena banyak sekali yang menuntut perbaikan, karena memang dari keputusan Bapak-Bapak ini, memutuskan juga kepentingan banyak orang.

Selamat bekerja Bapak-Bapak sekalian. Semoga Tuhan selalu menuntun Bapak-Bapak untuk selalu memutuskan dengan bijak.

Komentar