*cerpen
Nania berlari-lari, rambut panjangnya
yang diikat bergoyang-goyang. Sibuk. Banyak sekali yang harus disiapkan Nania. Panggung
berukuran 7x5 meter itu harus tampak cantik dan menarik. Ditatalah balon-balon
sedemikian rupa, dipasang lampu warna-warni diatasnya. Ornamen bunga-bunga ada
didasar panggungnya. Tertulis besar-besar kalimat “Dies Natalis SMA Harapan Bangsa” dibelakang panggung. Nania
mengambil bagian sebagai tim dekorasi, mengambil bagian untuk menyiapkan
pernak-pernik panggung. Memastikannya terpasang dengan baik, mengecek
berkali-kali apakah lemnya telah menempel sempurna, melihat dari bawah apakah
sudah tampak cantik panggung utama untuk pertunjukan esok hari. Senang saja
Nania melakukannya, meski harus kesana-kemari mencari bahan, meski selarut ini
dia harus tetap berada di sekolah dan memastikan semuanya beres. Suasana yang
riuh membuatnya betah, teman-teman yang menyenangkan dan saling membantu
membuat semua menyenagkan. Terlebih nania yang memang selalu tertarik dengan
gambar-gambar, pernak-pernik, dan ornamen-ornamen, membuat semuanya mudah saja
dilakukan. Nania yang selalu suka menghias kamarnya, kini menjadi tim dalam
menghias kamar yang jauh lebih besar. Dan itu masih sama menyenangkannya bagi
Nania.
Malam makin larut, dan pekerjaan
sudah hampir selesai. Pukul sembilan malam lewat lima belas menit, semuanya
sudah beres. Semua pengisi acara sudah selesai melakukan gladi bersih, semua
perlengkapan sudah tertata pada tempatnya, dan yang terpenting bagi Nania,
panggung sudah begitu cantik terlihat.
“Semuanya, kita berkumpul diatas panggung sekarang!”, suara
yang bersahaja itu bicara melalui pengeras suara. Kak Ali, ketua panitia untuk
acara Dies Natalis.
Puluhan panita yang sebagian besar sedang beristirahat,
bangkit menuju panggung. Bergegas untuk acara terakhir sebelum pulang. Do’a.
Nania yang sedang duduk disudut panggung, meneguk air juga bangkit menuju
tengah panggung. Sementara banyak anak lain masih berjalan dari bangku
penonton, belakang panggung, atau bahkan ada yang baru keluar dari kamar mandi,
Nania dan tiga teman duduknya sudah sampai di sumber suara, lantas mengambil
posisi menyejajari Kak Ali. Dan Nania, entah bagaimana telah berdidi tepat
disamping Kak Ali. Tingginya hanya sampai di telinga Kak Ali.
“Semangat teman-teman. Ayo kita kumpul dulu”, semantara Kak Ali
mengulangi panggilannya, Nania refleks menoleh, melihat bagaimana Kak Ali masih
begitu semangat. Terlihat jelas oleh Nania, dua bulir keringat mengalir
dipelipis Kak Ali, satu tangannya memegang mic, satu yang lain berkacak
pinggang. Berdirinya tegap, badannya tinggi, rambutnya hitam berombak, giginya
rapi, alisnya tebal, hidungnya mancung. Dua detik Nania perhatikan, lalu
cepat-cepat dibuang wajahnya ke arah lain. Takut jika ada yang
memperhatikannya. Bisa malu sekali Nania.
***
Nania kelas sepuluh, Kak Ali kelas
sebelas. Bukan hanya bisa dipercaya sebagai pemimpin acara, Kak Ali juga
dikenal pintar di bidang Fisika. Beberapa lomba dijuaraninya, terakhir, satu
bulan sebelum acara ini Kak Ali mendapat juara dua Olimpiade Fisika tingkat
kabupaten, dan ditengah kesibukannya sekarang, Kak Ali harus mempersiapkan
Olimpiadenya di tingkat provinsi dua bulan lagi. Sikapnya yang ramah, sopan,
menyenangkan, membuat Kak Ali banyak sekali dibicarakan. Oleh teman-teman
seangkatannya, oleh adik kelasnya, bahkan guru-guru juga sangat menyukainya. Belum
lagi gayanya yang sederhana, bersepeda ketika ke sekolah, membuatnya semakin
terlihat bersahaja. Dan Nania adalah satu dari yang mengagumi Kak Ali, meskipun
tidak pernah ia katakan, meskipun tidak ada yang tahu. Meskipun kanan kirinya
selalu berbisik-bisik membicarakan Kak Ali, tapi, aduh,,,,malu sekali Nania
mengakui kekagumannya walau pada dirinya sendiri. Jadilah dia hanya diam, mendengarkan
riuh-riuh kalimat takjub untuk Kak Ali dari teman-temannya. Menahan-nahan
senyum mendengarkan pujian-pujian untuk Kak Ali, lalu membenarkannya didalam
hati.
Ketika tahu
dirinya akan satu tim dengan Kak Ali dalam kepanitiaan Dies Natalis, senang
sekali hati Nania, kekaguman yang selama ini hanya sebatas adik kelas kepada
kakak kelasnya, akan menjadi lebih dekat lagi, Kak Ali akan mengenalnya sebagai
anggota tim, Kak Ali akan tahu namanya, dan Kak Ali akan menyapanya ketika
nanti tidak sengaja bertemu di kantin atau di halaman sekolah. Dan semua itu
benar, setelah acara pengukuhan panitia, Kak Ali yang ramah selalu menyapanya
dimanapun mereka berpapasan. Melambaikan tangan, tersenyum, berkata “hai”, Kak
Ali selalu menyapa. Nania masih malu mengakuinya, tapi dia senang memiliki
kesibukan yang sama dengan Kak Ali.
***
“Terimakasih teman-teman, sudah mau bekerja sampai selarut
ini. Terimakasih sudah mau susah payah membantu acara ini. Maaf sekali,
harusnya persiapan ini selesai jam 9 tepat, supaya kita punya waktu istirahat
yang cukup, karena besok kita justru lebih sibuk lagi, dan mulai lebih pagi
lagi. Demi acara yang hanya sekali setahun ini, saya harap teman-teman bisa
sedikit menahan lelahnya, semoga besok pagi teman-teman masih semangat untuk
menyelesaikan acara ini. Setelah besok, semoga kita bisa tidur nyenyak lagi”,
Kak Ali tersenyum menjeda kalimatnya. Sebagian anak juga ikut tersenyum.
Kak Ali lalu memastikan beberapa detail persipan pada masing-masing
koordinator bidang. Tentang jumlah kursi yang tadi kurang, tentang pengisi
acara yang minta dijemput dimana, tentang tranportasi yang bisa dipakai besok,
tentang dana yang mungkin kurang, tentang.........
“Lampu panggung yang tadi tidak menyala apa sudah beres ya?”, Kak Ali menoleh ke kanan kiri mencari Kak
Dinda sebagai koordinator dekorasi. Tak kunjung ada jawaban. Lima detik
berlalu, sepuluh detik berlalu, Kak Dinda tidak ada di atas panggung.
“Sudah Kak”, Nania yang berada di kiri Kak Ali menjawab pelan.
Kak Ali menoleh kearah nya, tersenyum
“Oke. Baiklah teman-teman, sepertinya sudah benar-benar
selesai persiapan malam ini. Sebelum kita pulang, kita berdoa dulu, untuk
keselamatan kita, untuk kesehatan kita dan untuk kelancaran acara Dies Natalis
besok. Berdo’a mulai!”
Serentak semua menundukkan kepala, berdo’a, semoga semua
lelah yang telah di dapat bisa memuaskan segala pihak yang hadir besok.
“Selesai”, Kak Ali mengangkat kepala diikuti semua anak.
“Teman-temen bisa pulang yaa... Jangan lupa makan. Jangan
lupa mandi. Jangan langsung tidur!! Haha”, Kak Ali masih bicara saat semua anak
mulai bubar. Terdengar gelak tawa dari berbagai arah.
Kak Dinda terlihat melawan arus anak-anak yang membubarkan
diri. Menuju Kak Ali.
“Sorry sorry, tadi masih ambil banner selamat datang. Ada yang belum beres?”
“Tadi aku tanya Nania sudah beres. Tim kamu keren Din!”, Kak
Ali memberi pujian
“Oke. Makasih Ali”
Nania yang masih bisa mendengar percakapan Kak Ali dan Kak
Dinda tersenyum. Nania bangga menjadi bagian tim yang keren menurut Kak Ali.
Tentu saja keren, Nania melakukannya sepenuh hati.
Sebentar kemudian, sekolah sudah sepi. Semua panitia dan guru
yang mengawasi pulang. Nania berjalan menuju motornya ketika Kak Ali berpapasan
dengannya, sedang mengendarai sepedanya. Kak Ali tersenyum. Nania balas
tersenyum. Lelah sekali Nania malam ini, tapi juga senang sekali, tapi sedih
juga acara akan berakhir dan kepanitaan juga akan dibubarkan.
Nania sampai di kamarnya. Mandi, lalu merebahkan tubuhnya di
kasur. Melihat handphonenya. Ada satu
notifikasi dari instagramnya “Ali Sanjaya
started following you”. Mata Nania membulat. “Kak Ali”, teriaknya dalam hati. Duhai,,,apakah Kak Ali
menyadarinya? Selama sebulan persiapan acara, sebulan sejak kepanitiaan
dibentuk. Apakah Kak Ali menyadari bahwa Nania diam-diam memperhatikannya? Atau
Kak Ali diam-diam juga mengaguminya?
Nania menarik selimutnya, mencoba tidur. Besok dia harus
bangun pagi-pagi sekali. Besok akan sibuk sekali. Lima belas menit, mata Nania
tidak juga terpejam. Sejenak ia meraih handphonenya, melihat kembali notifikasi
di instagramnya. “Ini benar-benar Kak Ali”, hatinya berkata lirih. “Sedang apa
Kak Ali sekarang? Apa juga tidak bisa tidur? Apa Kak Ali sudah mengecek
notifikasi instagramnya bahwa aku sudah mengikutinya balik? Kak Ali sedang apa
ya? Apakah masih meneliti apa yang kurang untuk persiapan acara besok? Apakah
Kak Ali juga memikirkannya?”, Nania bertanya-tanya. Lima belas menit berlalu
lagi, dan Nania belum memejamkan mata.
Duhai Nania,,,,andai kamu tahu jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan itu, andai kamu tahu apa yang dilakukan Kak Ali sekarang.
Kak Ali sudah pulas tidur sambil garuk-garuk pantat.

Komentar
Posting Komentar