Walau urusan ini sama sekali
tidak sederhana, pelan-pelan kita harus menerjemahkannya. Menempatkannya pada
tempat yang seharusnya. Mengelolanya dengan baik. Meresponnya dengan cara yang
paling tepat. Lantas mengambil keputusan terbaiknya.
Mulailah dengan rasa syukur atas
perasaan yang telah sampai pada hati mu. Sungguh itu suatu tanda bahwa Tuhan
amat baik pada hambanya. Juga tanda bahwa kau telah tumbuh dalam lingkungan
yang seharusnya. Tanda bahwa hati mu senantiasa hidup. Kau hanya sampai pada
tahap yang lebih maju dari tahap-tahap hidup manusia. Memiliki perasaan itu
sama sekali bukan sebuah dosa. Karena sungguh kita sendiri tidak punya kendali
atas hati kita, atas apa-apa yang akan menjadi menarik bagi kita. Maka ketika
perasaan itu muncul tiba-tiba, pelan-pelan, atau bahkan kau baru saja
menyadarinya, jangan terburu-buru membununya, menghakiminya sebagai suatu yang
keliru. Berikan ruang pada hati mu, carilah cahaya, temukan jawaban tentang apa
yang sebenarnya terjadi. Terjemahkan dengan
ilmu.
Ketika perasaan itu timbul, dan mulai
tumbuh, semua itu tidak dihitung sebagai amal atau dosa. Tapi sikap yang kau
ambil atas tumbuhnya perasaan itu, akan dicatat sebagai kesalahan jika kau
ambil jalan yang salah, dan kebenaran jika kau ambil jalan yang benar. Maka,
keputusan mu atas perasaan itu harus dipertimbangkan. Pertimbangkan dengan ilmu. Sederhananya, kau paling tidak punya dua
pilihan. Antara keberanian atau pengorbanan. Bagaimana memilihnya? Kau yang
seharusnya mampu mengukur sejauh apa kemampuan mu. Maka mengenali kekuatanmu
sebelum mengambil keputusan untuk perasaan itu sangat perlu. Penting sekali
menyelesaikan urusan mu dengan diri mu, sebelum melibatkan orang lain dalam
kehidupan mu. Sebelum jauh-jauh melangkah, sebelum angan-angan semakin jauh,
sebelum janji-janji diucapkan, sebelum rencana-rencana dibicarakan, sebelum
keadaan menjadi rumit, kenali diri mu dengan baik. Putuskan kemana arah
langkahmu, putuskan bagaimana kau mencapai kemauan mu, putuskan cita-cita
terbesar mu. Kenali dirimu dengan baik. Kanali apa yang peting bagi mu, kenali apa
yang paling penting bagi mu. Kenali apa yang bisa kau terima, apa yang tidak
bisa kau terima. Kenali apa yang bisa kau tinggalkan, apa yang tidak bisa kau
tinggalkan. Kenali apa yang bisa kau kerjakan, apa yang tidak bisa kau kerjakan.
Ketika akhirnya kau bisa
mengenali dirimu, maka selanjutnya sebelum membangun komitmen dengan orang lain,
buktikan komitmen mu pada diri mu sendiri. Seberapa teguh kau memegang
cita-cita mu, seberapa tangguh kau berjalan diatas kebenaran. Karena bukti-bukti
akan membuat orang lain percaya.
Keberanian atau pengorbanan. Bagaimana
memilihnya? Dengan melihat kemungkinan-kemungkinan. Dengan melihat
keadaan-keadaan. Lihatlah dengan ilmu. Sayangnya
tidak ada rumus pasti untuk memperkirakan kemungkinan ini. Kadang yang kita
kira tidak mungkin menjadi mungkin, dan sebaliknya. Kadang apa yang kita kira
jauh ternyata dekat, dan sebaliknya. Kadang apa yang kita kira mudah ternyata
rumit, dan sebaliknya. Maka teruslah berdo’a, berserah hanya kepada Tuhan yang
mengatur segalanya. Bacalah kisah-kisah teladan. Berjalanlah diatas kebenaran. Temukan
bahwa ada yang jauh lebih tinggi dari sekedar perasaan dan ketertarikan, yang
nantinya akan lebih kekal dan menghadirkan bahagia. Belajarlah bagaimana
tokoh-tokoh kebenaran mengambil keputusan. Perhatikan apa yang mereka jadikan
dasar keputusan. Tauladani mereka Nak! Perhatikan kapan mereka memilih berani
untuk menyatakan, kapan mereka memilih diam mengorbankan perasaannya. Bacalah
kisah-kisah mereka Nak! Mereka yang disebut utusan dan sahabat-sahabatnya.
Keberanian atau pengorbanan? Perkirakan
apa yang harus dipersiapkan jika akhirnya kau memilih keberanian. Perkirakan apa
yang harus dilepaskan jika akhirnya kau memilih pengorbanan. Pertimbangkan mana
diantara kedua itu yang sanggup kau lakukan. Dan jangan sekali-kali berhenti
berdo’a dan berserah hanya kepada Tuhan
yang mengatur segalanya. Percayalah Nak! Jika
Dia yang berkehendak, segalanya akan menjadi mudah.
Jika kau memilih pengorbanan,
maka tetap berjalanlah pada jalan kebenaran. Teruslah belajar dengan
kesungguhan. Bersabarlah dengan kesabaran yang tak terbatas. Percayalah dengan
janji yang terbukti tak pernah ingkar.
Jika kau memilih keberanian, maka
lebih banyak lagi yang haru kau persiapkan, lebih banyak lagi yang harus kau
buktikan. Jauh lebih banyak.

Komentar
Posting Komentar