Keberanian atau Pengorbanan

Sudah sampaikah getaran itu pada hati mu Nak? Apa yang kini kau lakukan? Masihkah kewajiban -kewajiban mu selesai dengan baik saat suasana hati demikian? Apakah mimpi-mimpi mu masih jelas setelah terusik ketenangan? Apakah kau masih bertarung sekuat dulu saat perasaan itu mengganggu?

Walau urusan ini sama sekali tidak sederhana, pelan-pelan kita harus menerjemahkannya. Menempatkannya pada tempat yang seharusnya. Mengelolanya dengan baik. Meresponnya dengan cara yang paling tepat. Lantas mengambil keputusan terbaiknya.

Mulailah dengan rasa syukur atas perasaan yang telah sampai pada hati mu. Sungguh itu suatu tanda bahwa Tuhan amat baik pada hambanya. Juga tanda bahwa kau telah tumbuh dalam lingkungan yang seharusnya. Tanda bahwa hati mu senantiasa hidup. Kau hanya sampai pada tahap yang lebih maju dari tahap-tahap hidup manusia. Memiliki perasaan itu sama sekali bukan sebuah dosa. Karena sungguh kita sendiri tidak punya kendali atas hati kita, atas apa-apa yang akan menjadi menarik bagi kita. Maka ketika perasaan itu muncul tiba-tiba, pelan-pelan, atau bahkan kau baru saja menyadarinya, jangan terburu-buru membununya, menghakiminya sebagai suatu yang keliru. Berikan ruang pada hati mu, carilah cahaya, temukan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi. Terjemahkan dengan ilmu.

Ketika perasaan itu timbul, dan mulai tumbuh, semua itu tidak dihitung sebagai amal atau dosa. Tapi sikap yang kau ambil atas tumbuhnya perasaan itu, akan dicatat sebagai kesalahan jika kau ambil jalan yang salah, dan kebenaran jika kau ambil jalan yang benar. Maka, keputusan mu atas perasaan itu harus dipertimbangkan. Pertimbangkan dengan ilmu. Sederhananya, kau paling tidak punya dua pilihan. Antara keberanian atau pengorbanan. Bagaimana memilihnya? Kau yang seharusnya mampu mengukur sejauh apa kemampuan mu. Maka mengenali kekuatanmu sebelum mengambil keputusan untuk perasaan itu sangat perlu. Penting sekali menyelesaikan urusan mu dengan diri mu, sebelum melibatkan orang lain dalam kehidupan mu. Sebelum jauh-jauh melangkah, sebelum angan-angan semakin jauh, sebelum janji-janji diucapkan, sebelum rencana-rencana dibicarakan, sebelum keadaan menjadi rumit, kenali diri mu dengan baik. Putuskan kemana arah langkahmu, putuskan bagaimana kau mencapai kemauan mu, putuskan cita-cita terbesar mu. Kenali dirimu dengan baik. Kanali apa yang peting bagi mu, kenali apa yang paling penting bagi mu. Kenali apa yang bisa kau terima, apa yang tidak bisa kau terima. Kenali apa yang bisa kau tinggalkan, apa yang tidak bisa kau tinggalkan. Kenali apa yang bisa kau kerjakan, apa yang tidak bisa kau kerjakan.

Ketika akhirnya kau bisa mengenali dirimu, maka selanjutnya sebelum membangun komitmen dengan orang lain, buktikan komitmen mu pada diri mu sendiri. Seberapa teguh kau memegang cita-cita mu, seberapa tangguh kau berjalan diatas kebenaran. Karena bukti-bukti akan membuat orang lain percaya.

Keberanian atau pengorbanan. Bagaimana memilihnya? Dengan melihat kemungkinan-kemungkinan. Dengan melihat keadaan-keadaan. Lihatlah dengan ilmu. Sayangnya tidak ada rumus pasti untuk memperkirakan kemungkinan ini. Kadang yang kita kira tidak mungkin menjadi mungkin, dan sebaliknya. Kadang apa yang kita kira jauh ternyata dekat, dan sebaliknya. Kadang apa yang kita kira mudah ternyata rumit, dan sebaliknya. Maka teruslah berdo’a, berserah hanya kepada Tuhan yang mengatur segalanya. Bacalah kisah-kisah teladan. Berjalanlah diatas kebenaran. Temukan bahwa ada yang jauh lebih tinggi dari sekedar perasaan dan ketertarikan, yang nantinya akan lebih kekal dan menghadirkan bahagia. Belajarlah bagaimana tokoh-tokoh kebenaran mengambil keputusan. Perhatikan apa yang mereka jadikan dasar keputusan. Tauladani mereka Nak! Perhatikan kapan mereka memilih berani untuk menyatakan, kapan mereka memilih diam mengorbankan perasaannya. Bacalah kisah-kisah mereka Nak! Mereka yang disebut utusan dan sahabat-sahabatnya.

Keberanian atau pengorbanan? Perkirakan apa yang harus dipersiapkan jika akhirnya kau memilih keberanian. Perkirakan apa yang harus dilepaskan jika akhirnya kau memilih pengorbanan. Pertimbangkan mana diantara kedua itu yang sanggup kau lakukan. Dan jangan sekali-kali berhenti berdo’a dan  berserah hanya kepada Tuhan yang mengatur segalanya. Percayalah Nak! Jika Dia yang berkehendak, segalanya akan menjadi mudah.

Jika kau memilih pengorbanan, maka tetap berjalanlah pada jalan kebenaran. Teruslah belajar dengan kesungguhan. Bersabarlah dengan kesabaran yang tak terbatas. Percayalah dengan janji yang terbukti tak pernah ingkar.

Jika kau memilih keberanian, maka lebih banyak lagi yang haru kau persiapkan, lebih banyak lagi yang harus kau buktikan. Jauh lebih banyak.


Komentar