Apakah pertanyaan-pertanyaan itu mulai mengganggu mu nak? Tentang mengapa bisa seperti ini dan seperti itu? Tentang apa dan bagaimana setelah ini? Tentang bagaimana hidup bisa sesial ini dan mengapa keberuntungan terasa jauh? Tentang hidup yang penuh kejutan, tentang hidup yang melelahkan, tentang hidup yang menyenangkan. Tentang kehidupan.
Pasti telah banyak yang
kau alami nak, hingga akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan
berputar-putar dalam benak mu. Sungguh beruntung orang-orang yang mau
memikirkan tentang hakikat, tentang arti dan tentang kehidupan. Maka menepilah
sebentar dari kesibukan yang melelahkan, dari hingar bingar yang memusingkan.
Merenunglah bersama malam yang pekat, yang pohon-pohonnya membeku. Bersimpuhlah
bersama hening yang menenangkan. Dan pelan-pelan ingatlah nasihat-nasihat lama
itu, yang dahulu mungkin belum kau pahami artinya. Lalu dengan kerendahan hati,
dengan rasa tak berdaya, mohonlah agar hatimu diberi kemampuan untuk memahami.
Kau tahu apa
keberuntungan terbesar kita nak? Sebuah rasa percaya. Sungguh tak ternilai
harga sebuah percaya. Kau tahu bagaimana menumbuhkan rasa percaya? Dengan mencari
bukti-bukti kebenaran. Bagaimana kita menemukan kebenaran? Berawal dari rasa
penasaran, dari pertanyaan-pertanyaan itu nak. Lantas dengan anugrah akal kita
akan temukan kebenarannya. Kau pasti sudah paham tentang bab ini nak. Bukankah
telah jelas bab tentang bukti-bukti kebenaran? Tentang penciptaan yang begitu
rumit, tentang dunia yang memiliki pola, tentang begitu banyak kesesuaian,
bahkan tentang janji yang selalu tepat dan sekalipun tak pernah ingkar. Tentang
tantangan untuk menghadirkan yang serupa, yang hingga kini dan hingga kapanpun
tak akan pernah ada yang mampu menjadi pembandingnya. Islam. Telah kita temukan
kebenaran dalam Islam yang kini kita peluk.
Lalu bagaimana menjawab
pertanyaan-pertanyaan mu? Jawabannya sederhana, jawabannya adalah rasa percaya.
Setelah kebenaran itu kita temukan, selanjutnya kita hanya perlu percaya semua janji-janji
yang dipersembahkann-Nya. Dengan rasa percaya, kita hanya perlu berjalan,
percaya dengan peraturan-peraturan yang dibuat-Nya, percaya dengan
perintah-perintah yang dibuatnya. Lalu tugas kita hanya berjalan, berjalan
menunggu giliran. Selama kita percaya dan tetap dalam kepercayaan yang utuh,
sungguh kita akan aman. Kita akan tentram dan pertanyaan-pertanyaan itu tak
lagi memusingkan.
Baiklah Nak, kau kini
bisa membantah bahwa semuanya tak semudah kata-kata itu. “Hanya berjalan, hanya
berjalan di jalan yang benar, tinggal berjalan mengikuti perintah dan larangan”.
Sungguh sederhana kalimatnya, sungguh ringan diucapkan, dan kau sungguh akan
tetap membantah “Tak akan semudah itu”
Baiklah Nak, sebelum
kita lebih jauh dalam berbantah-bantah. Mari kita ingat kembali cerita-cerita
masa lalu. Jauh sekali sebelum kita ada, tapi sebagian bukti kebenarannya masih
tetap ada, dan kebenaran ceritanya sungguh tidak diragukan lagi. Cerita tentang
“Hanya berjalan, hanya berjalan dijalan yang benar, tinggal berjalan mengikuti
larangan dan perintah”
Kau sungguh hafal kisah
tentang Nuh As. Yang permukimannya ada diperbukitan, jauh dari lautan. Nuh As
sebagai orang yang terpilih, diperintahkan mengajak orang-orang kembali pada
kebenaran., meninggalkan kesesatan. Maka Nuh As menjalankan perintah itu,
menyeru pada kaumnya. Seberapa lama? 950 tahun. Seberapa banyak yang menerima
kebenaran dan mengikuti ajaran Nuh As? Sungguh sedikit dari sekian banyak
orang-orang dalam kaumnya. Selanjutnya datang perintah untuk menanam
pohon-pohon. Maka Nuh as dan semua yang percaya padanya menanam benih-benih
pohon. Merawatnya hingga tingginya menjulang, hingga batang-batangnya menjadi
begitu besar. Selanjutnya datang perintah untuk membangun sebuah bahtera yang
megah, yang belum pernah dibuat sebelumnya. Maka
Nuh as menebang pohon-pohon yang telah menjulang demi membangun bahtera
megahnya. Bukankah sungguh lucu Nak, Nuh as dan semua yang percaya padanya kini
menebang pohon-pohon yang susah payah ditanamnya demi membangun bahtera megah. Dan
bukankah lebih lucu lagi Nak, Nuh As membangun bahtera megahnya di atas
perbukitan, yang bahkan lautanpun tak terlihat dari sana. Maka tak terhitung
olok-olok yang diterimanya demi membangun bahtera itu, demi menjalankan
perintah itu. Kau tahu persis bagaimana cerita selanjutnya Nak. Pada waktunya,
air keluar dari tempatnya sembunyi. Awan-awan yang menyimpan hujan turun tanpa
ampun, tanah-tanah merekah memuncratkan air dari dalamnya. Maka bahtera Nuh as
menyelamatkannya, pengikutnya, serta macam-macam hewan yang telah diperintahkan
untuk diikutsertakan dalam bahteranya. Kau tahu akhir cerinyanya Nak, Nuh as
dan orang-orang yang percaya padanya selamat dari gelombang air yang menenggelamkan
puncak-puncak bukit. Maka mendaratlah bahteranya pada tempat yang telah ditentukan,
maka lestarilah manusia, maka lestarilah hewan-hewan, maka lestarilah ajaran
kebaikan itu.
Kau tahu Nak? Saat Nuh
as mendapat perintah untuk menanam benih-benih pohon, Ia sama sekali tidak tahu
bahwa batang pohon yang ditanamnya akan menjadi bahtera maha megah. Saat Nuh as
diperintahkan membangun bahtera, Ia sama sekali tidak mengira bahwa banjir
besar akan menerjang perbukitannya. Kau tahu Nak? Nuh as hanya menjalankan
perintah. Seberapapun sulitnya, seberapa banyakpun olok-olok yang didengarnya,
Nuh as tetap teguh dalam menjalankan perintah-perintah itu. Nuh as tahu bahwa
perintah itu datang dari Yang Maha Benar, Yang Maha Pelindung, Yang Maha
Memelihara. Maka Nuh as tahu, selama Ia memenuhi perintah-perintah itu, Ia akan
termasuk orang-orang yang benar, yang akan selalu mendapat perlindungan, yang
tidak akan diterlantarkan. Nuh as percaya bahwa taat adalah jalan paling aman,
jalan yang akan menyelamatkannya.
Selanjutnya, mari kita
ingat kembali kisah Ibrahim as. Tak tergambar pilunya hati Ibrahim as saat
meninggalkan keluarga yang dicintainya ditengah gurun gersang yang sama sekali
tak menjanjikan kehidupan. Bukankah Ismail as adalah jawaban dari do’a-do’a
panjangnya? Bukankan Ismail as adalah keturunan yang dinantikannya selama
puluhan tahun? Bukankan Hajar adalah istri yang amat dicintainya? Mengapa pula
seorang bapak harus menelantarkan darah daginnya dihamparan yang hanya berisi
pasir? Kau tahu Nak? Saat Ibrahim as diperintahkan meninggalkan keluarganya di
tengah padang pasir, Ia tak tahu bahwa tempat gersang itu akan menjadi ramai
oleh kehidupan. Bahkan beribu-ribu tahun setelah kepergiannya. Ibramim as hanya
tahu bahwa perintah itu adalah dari Yang Maha Benar, Yang Maha Melindungi, Yang
Maha Memelihara. Dan kau tahu kelanjutan ceritanya, kau tahu akhir ceritanya.
Bukankah terbukti benar bahwa Ismail as dan Hajar terlindungi hingga akhir,
Ismail as dan Hajar samasekali tidak diterlantarkan, Ismail as dan Hajar
dipelihara oleh-Nya. Ibrahim as, Ismail as dan Hajar percaya bahwa taat adalah
jalan paling aman, jalan yang akan menyelamatkannya.
Selanjutnya, mari kita
kenang kisah Musa as. Ketika pelariannya sampai di tepi laut merah, ketika Firaun
dan tentaranya telah dekat dan ketika kaumnya mulai mengeluh bahwa mereka akan
tertangkap, bahwa kebebasan yang dijanjikan adalah dusta, bahwa pelariannya
hanya kesia-siaan saja. Musa as diperintahkan memukulkan tongkatnya. Maka Musa
as memukulkan tongkatnya. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya Nak. Air laut
yang dalam itu merekah, membelah, membentangkan jalan pada Musa as dan kaumnya.
Kau tahu akhir ceritanya Nak. Manusia paling angkuh itu mati karena segenggam
air yang masuk ke paru-parunya. Tenggelam. Kau tahu Nak? Musa as sama sekali
tidak punya ide tentang laut yang membelah, tak terbayang tentang berjalan diantara
dinding-dinding air yang menjulang. Musa as hanya tahu bahwa perintah itu
adalah dari Yang Maha Benar, Yang Maha Melindungi, Yang maha memelihara. Musa
as percaya bahwa taat adalah jalan paling aman, jalan yang akan
menyelamatkannya.
Setelah ini kau akan
ingat banyak lagi kisah tentang kekuatan sebuah percaya. Percaya yang
melahirkan bentuk-bentuk ketaatan. Dengan ketaatan itu Nak, kau akan
membuktikan lebih banyak lagi kebenaran, kau akan menemukan lebih banyak lagi
janji-janji yang tak pernah ingkar.
Lalu apa jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan mu? Sebagian mungkin tak ada penjelasannya sekarang. Sungguh,
tugas mu hanyalah memastikan bahwa kau ada pada jalan yang diperintahkan.
Sisanya, jelas itu bukan sesuatu yang bisa kau kendalikan. Pastikan kau ada
pada jalan kebenaran, meskipun hanya segelintir yang bersamamu, meskipun pilu
hati berjalan didalamnya, meskipun tak pernah kau duga apa yang ada didepan
sana.
Bukankah hebat bekal
yang diberikan Yang Maha Kuasa kepada kita Nak? Kisah-kisah hebat yang terjamin
kebenarannya, yang selalu memberikan tauladan. Maka, hiduplah untuk kebenaran
Nak, meskipun itu berarti mengorbankan banyak hal, meskipun itu sungguh
melelahkan. Tapi kau tahu persis, itu jalan paling aman, itu jalan menuju
keselamatan. Karena sungguh dunia amat tak berharga jika kita mengabaikan
janji-janji kebenaran.
Komentar
Posting Komentar