Sekali takdir itu datang


Bagaimana takdir itu bekerja? Bagaimana rasa penasaran muncul?

Tidak bisa dibantah, bahwa dalam satu sudut hati selalu ada rindu. 

Tidak bisa dibantah, bahwa kadang ia meluap-luap. Berlipat-lipat kadarnya, berkali-kali besarnya. Tapi seharusnya kita mampu mengendalikannya. Menenangkan, merapikan, menutup, menyimpannya. Hingga nanti kesempatannya tiba, ia lantas boleh tumpah, berkembang, meninggi dan berbuah. Karena memang sudah saatnya dan memang disanalah tempatnya.

Terkadang ada yang bertanya, bagaimana hatimu bisa begitu diam? Ah,,kau salah kawan, hatiku juga penuh petanyaan, penuh harapan-harapan dan tentu saja penuh rasa penasaran. Tapi entahlah, sekarang aku lebih suka menyimpannya sebagai rahasia. Membiarkan pertanyaan, harapan dan rasa penasaran menggantung dalam diam. Karena memang tak ada jawabannya sekarang.

Begitulah aku memahami bagaimana kerinduan harus ditempatkan. Biarkan dia kini bertempat dalam diam. Toh aku juga tidak dalam keadaan siap untuk menerima jawaban. Masih banyak bekal yang harus dicari untuk menghadapi pertemuan, jadi biarkan rindu itu menari-nari dalam diamnya. Biarlah rindu itu diam, bisu tak bersuara. Biarlah rindu itu diam, bahkan ketika ia ingin berteriak menuntut untuk dilepaskan. Ia akan tetap diam meski banyak yang mendesaknya keluar dan terucap. Aku sendiri yang akan memutuskan, kapan rindu itu akan bersuara.

Sekali takdir itu datang, rindu akan lepas
Sekali takdir itu datang, tak ada lagi diam
Sekali takdir itu datang, ia akan menerima satu kerinduan yang utuh, yang suaranya belum pernah diperdengarkan, yang nyanyiannya belum penah dinyanyikan

Begitulah aku memahami bagaimana kerinduan akan menjadi indah saat takdir telah menjemputnya.

Sungguh hebat pelajaran ini. Mengajarkan kita mendapat bagian paling indah dari kerinduan, bagian paling indah dari penantian. 

Komentar