Buku ini adalah nasehat bagi Hamka sendiri ketika dirinya
ditahan serta menerima penghinaan yang keji dari aparat. Ketika ada teman yang
berkata “eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!”
“Memang!”, jawab Hamka . “Saya sedang memberi nasihat
kepada saya sendiri, sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia
hendak mencari ketenangan jiwa dari buku ini. Sebab telah banyak orang memberi
tahukan bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena buku “Tasawuf Modern” ini.
Buku ini mengajari kita menemukan bahagia yang dicari
oleh semua manusia. Buku ini menuntun kita menemukan bahagia yang ternyata
dekat, ada dalam diri kita.
KUTIPAN ISI BUKU:
Kalau
kita peturutkan, bahagia itu mempunyai kaidah sebanyak orang, sebanyak
penderitaan, sebanyak pengalaman, sebanyak kekecewaan..
Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan
Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan
Orang yang telah terjerumus ke lembah dosa
megatakan bahwa terhenti dari dosa itulah kebahagiaan
Orang yang rindu atau bercinta, mengatakan hasil
maksudnya itulah bahagia
Seorang penganjur rakyat berpendapat, bahwa
kemerdekaan dan kecerdasan umat bangsa yang dipimpinya itulah bahagia
Seorang perawan dusun bernama Asma binti
Bahdal, yang dikawini oleh Mu’awiyah nin Abi Sufyan, berkeyakinan bahwa bahagia
itu adalah kembali ke dusunnya, didalam pondoknya yang buruk walaupun sekarang
diam dalam istana yang indah
Seorang pengarang syair merasa
bahagia jika syairnya jadi hafalan orang. Seorang jurnalis merasa bahagia jika
surat kabarnya dan timbangan redaksinya dipahami orang.
Sabda Rasulullah pula. “Allah telah membagi akal kepada
tiga bagian; siapa yang cukup mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya;
kalau kekurangan walau sebagian, tidaklah ia terhitung orang yang berakal.”
Orang bertanya: “Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga
macam itu?”
Kata beliau: “Pertama baik ma’rifatnya kepada Allah,
kedua baik taatnya kepada Allah, ketiga baik pula sabarnya atas ketentuan
Allah”
Dari sabda Nabi itu, dapat kita ambil kesimpulan bahwa
derajat bahagia manusia itu menurut derajat akalnya, karena akallah yang dapat
menerangkan segala pekerjaan, akal yang menyelidiki hakikat dan kejadian segala
sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup dunia ini. Bertambah sempurna,
bertambah indah dan murni akal itu, bertambah pulalah derajat bahagia yang kita
capai. Oleh karena itu, menurut kehendak hadis diatas, kepada kesempurnaan
akallah kesempurnaan bahagia.
***
Sekian, semoga kita
bisa menerapkan rumus-rumus bahagia yang telah dipaparkan Hamka

Komentar
Posting Komentar