Rumus-Rumus Bahagia


        
           Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1939 dan sampai saat ini masih ada di toko buku, ditulis oleh seorang ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Dari seorang Hamka yang juga sastrawan dan politikus. Tak ada satu pendidikan formal yang ditamatkannya. Modalnya adalah banyak membaca dan belajar langsung dari guru-guru dibanyak tempat. Tapi Universitas Al-Azhar Kairo memberinya gelar Ustaziah Fakhiriyah (Doktor Honoris Causa) karena menghargai jasanya menyiarkan Islam di Indonesia. Sejak itulah ada titel “Dr” didepan namanya.
           Buku ini adalah nasehat bagi Hamka sendiri ketika dirinya ditahan serta menerima penghinaan yang keji dari aparat. Ketika ada teman yang berkata “eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!”
          “Memang!”, jawab Hamka . “Saya sedang memberi nasihat kepada saya sendiri, sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dari buku ini. Sebab telah banyak orang memberi tahukan bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena buku “Tasawuf Modern” ini.
       Buku ini mengajari kita menemukan bahagia yang dicari oleh semua manusia. Buku ini menuntun kita menemukan bahagia yang ternyata dekat, ada dalam diri kita.
KUTIPAN ISI BUKU:
Kalau kita peturutkan, bahagia itu mempunyai kaidah sebanyak orang, sebanyak penderitaan, sebanyak pengalaman, sebanyak kekecewaan..
            Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan
            Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan
Orang yang telah terjerumus ke lembah dosa megatakan bahwa terhenti dari dosa itulah kebahagiaan
            Orang yang rindu atau bercinta, mengatakan hasil maksudnya itulah bahagia
Seorang penganjur rakyat berpendapat, bahwa kemerdekaan dan kecerdasan umat bangsa yang dipimpinya itulah bahagia
Seorang perawan dusun bernama Asma binti Bahdal, yang dikawini oleh Mu’awiyah nin Abi Sufyan, berkeyakinan bahwa bahagia itu adalah kembali ke dusunnya, didalam pondoknya yang buruk walaupun sekarang diam dalam istana yang indah
        Seorang pengarang syair merasa bahagia jika syairnya jadi hafalan orang. Seorang jurnalis merasa bahagia jika surat kabarnya dan timbangan redaksinya dipahami orang.

       Sabda Rasulullah pula. “Allah telah membagi akal kepada tiga bagian; siapa yang cukup mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya; kalau kekurangan walau sebagian, tidaklah ia terhitung orang yang berakal.”
            Orang bertanya: “Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga macam itu?”
            Kata beliau: “Pertama baik ma’rifatnya kepada Allah, kedua baik taatnya kepada Allah, ketiga baik pula sabarnya atas ketentuan Allah”
           Dari sabda Nabi itu, dapat kita ambil kesimpulan bahwa derajat bahagia manusia itu menurut derajat akalnya, karena akallah yang dapat menerangkan segala pekerjaan, akal yang menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup dunia ini. Bertambah sempurna, bertambah indah dan murni akal itu, bertambah pulalah derajat bahagia yang kita capai. Oleh karena itu, menurut kehendak hadis diatas, kepada kesempurnaan akallah kesempurnaan bahagia.
***
Sekian, semoga kita bisa menerapkan rumus-rumus bahagia yang telah dipaparkan Hamka

Komentar