Sejarah adalah adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Jika kita lihat lagi kisah-kisah dalam sejarah, kita akan dikenalkan pada orang-orang hebat dimasanya. Muhammad Al-Fatih yang menaklukan kota paling indah saat itu, Tariq bin Zaid yang menaklukan Andalusia, Abd Al-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik yang membangun peradaban di Andalusia (Spanyol) dan tentu saja sejarah akan memperkenalkan kita pada manusia paling mulia sepanjang sejarah, yang oleh Michael H. Hart (1978) ditempatkan pada peringkat pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah, Rasulullah Muhammad SAW. Jikalah kita urai satu-satu kisah tokoh-tokoh itu, pasti akan kita dapat suatu teladan yang luar biasa indah, yang jika kita mengikuti jalannya, pasti akan sampai juga kita pada kejayaan yang pernah dicapai oleh mereka. Mari kita lihat kembali bagaimana “kegilaan” Al-Fatih yang melayarkan kapal-kapalnya di atas daratan yang berbatu. Mari kita coba memahami bagaimana seorang putra mahkota yang tidak bisa menempati singgah sananya, yang semua keluarganya telah dibunuh pemberontak, melarikan diri jauh ke barat, lantas membangun peradaban baru yang nantinya akan menjadi surga bagi pengemban ilmu pengetahuan, seni dan spiritualisme. Dialah Abd Al-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Mari kita teliti akhlak seorang yang lahir di tengah peradaban yang jahil, lantas mampu memenuhi tanah yang penuh oleh kebobrokan budaya itu dengan kemajuan-kemajuan yang pesat hanya dalam waktu singkat. Dialah Muhammad SAW yang selalu kita sebut-sebut namanya. Lalu apa yang mendorong mereka mengambil langkah demikian? Apa yang membuat mereka mencapai pencapaian yang besar itu? Karena mereka memegang teguh satuhal.
Tapi sejarah tidak melulu mencatat tentang kemenangan dan kejayaan, sejarah juga merekam kekalahan dan kemunduran manusianya. Sejarah mencatat keruntuhan Dinasti Ummayah II (yang didirikan Abd Al-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik) di Andalusia, bukan hanya karena musuh yang semakin kuat, tapi karena diri sendiri juga semakin lemah dan lalai. Ketika pemimpinnya mulai bermegah-megah, lupa akan amanah dan ajaran yang lurus, disanalah lubang besar kelemahan yang bisa dengan mudah dimasuki musuh. Mari kita lihat pula keruntuhan Dinasti Umamayah I, pemberontak tentu tidak menyerang tanpa sebab. Pemberontak melihat betapa buruknya kepemimpinan pemimpin-pemimpin mereka, korupsi para khalifahnya makin menggerogoti sendi-sendi rakyatnya. Belum lagi musuh yang makin siap menyerang. Jika kita mencari kisah yang lain, mungkin kita akan menemui hal yang sama. Lalu apa yang membuat mereka kehilangan kekuatan? Apa yang membuat kejayaan mereka runtuh? Karena mereka meninggalkan satuhal.
Apa yang dipegang teguh lantas membuahkan kejayaan dan kemuliaan? Apa yang ditinggalkan lantas membuahkan kekalahan dan kemunduran? Itulah Islam yang lurus dan sempurna.
Mari belajar dari sejarah, kekalahan, kemunduran, keruntuhan akan terus berulang jika kita tetap jauh dari Islam. -self remainder-

Komentar
Posting Komentar